Minyak Stabil, Fokus Konflik Timur Tengah dan Cut Rate Fed
Harga minyak mentah bergerak stabil pada perdagangan Rabu (29/10), di tengah meningkatnya ketegangan baru antara Israel dan Hamas yang berpotensi mengguncang kesepakatan gencatan senjata terbaru. Namun, sikap hati-hati pelaku pasar menjelang pengumuman kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) membuat aktivitas perdagangan cenderung terbatas.
Pada pukul 08.40 waktu New York (12.40 GMT), kontrak Brent Desember naik tipis 0,1% menjadi $63,86 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan nyaris tak berubah di $60,15 per barel. Pergerakan ini memutus penurunan dua sesi berturut-turut, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat eskalasi konflik di Jalur Gaza.
Gencatan Senjata Gaza Diuji Setelah Serangan Israel-Hamas
Israel pada Selasa melancarkan serangan ke Gaza setelah menuduh kelompok Hamas melanggar gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat. Serangan tersebut merupakan aksi militer kedua sejak kesepakatan awal damai ditandatangani pada awal Oktober.
Ketegangan yang kembali muncul itu menimbulkan kekhawatiran akan potensi disrupsi pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Namun, pejabat AS menyatakan bahwa gencatan senjata secara umum masih bertahan, sehingga menahan sebagian kenaikan harga minyak yang sempat terjadi.
Stok Minyak Mentah AS Turun – Data API
Harga minyak sempat mendapat dorongan pada akhir perdagangan Selasa setelah data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan signifikan pada stok minyak mentah AS sebesar 4,02 juta barel untuk pekan yang berakhir 24 Oktober.
Stok bensin turun 6,35 juta barel, sementara distilat berkurang 4,36 juta barel dibandingkan minggu sebelumnya, memberikan dukungan tambahan bagi pasar energi.
Fokus Pasar Beralih ke Keputusan The Fed
Kendati demikian, penguatan harga minyak tertahan menjelang keputusan kebijakan terbaru dari The Federal Reserve, yang diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Langkah ini didorong oleh data inflasi AS terbaru yang menunjukkan tren pendinginan lebih lanjut.
Fokus investor kini tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, terutama mengenai pandangan bank sentral terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan moneter berikutnya, mengingat pasar masih terpecah dalam memprediksi seberapa jauh siklus pemangkasan suku bunga akan berlanjut.(yds)
Sumber: Investing.com