Minyak Turun Terkait Sanksi Rusia dan Rencana Output OPEC+
Harga minyak turun hampir 2% pada hari Selasa (28/10), penurunan hari ketiga berturut-turut, karena investor menilai dampak sanksi Amerika Serikat terhadap dua perusahaan minyak terbesar Rusia serta kemungkinan rencana OPEC+ untuk menaikkan produksi.
Kontrak berjangka Brent turun $1,09 atau 1,7% menjadi $64,53 per barel pada pukul 12:53 GMT. Kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun $1,07 atau 1,8% ke $60,24 per barel.
“Trader menimbang progres pembicaraan dagang AS–Tiongkok dan prospek suplai secara keseluruhan,” kata ANZ dalam catatan pagi.
Minyak Brent dan WTI pekan lalu mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Juni, sebagai respons atas keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi terkait Ukraina kepada Rusia untuk pertama kalinya di periode keduanya, menargetkan perusahaan minyak Lukoil dan Rosneft.
Investor terus mencoba menilai seberapa efektif sanksi-sanksi tersebut terhadap Rusia.
“Pasar minyak masih memperdebatkan apakah sanksi terbaru ini akan benar-benar berdampak pada ekspor minyak Rusia atau tidak. Para pelaku pasar sedikit mengurangi premi risiko suplai yang sempat naik pekan lalu,” kata analis UBS Giovanni Staunovo.
Dampak sanksi pada negara pengekspor minyak akan terbatas karena masih ada kapasitas cadangan (surplus capacity), kata Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol pada hari Selasa.
Setelah sanksi AS diumumkan, Lukoil produsen minyak terbesar kedua Rusia mengatakan pada hari Senin bahwa mereka akan menjual aset internasionalnya. Ini adalah langkah paling besar sejauh ini dari perusahaan Rusia sejak dikenakan sanksi Barat atas perang Rusia di Ukraina, yang dimulai pada Februari 2022.
Sementara itu, para kilang India belum memasukkan pesanan baru untuk pembelian minyak Rusia sejak sanksi diberlakukan. Mereka menunggu kejelasan dari pemerintah dan pemasok, kata sumber kepada Reuters pada hari Selasa.
Di saat yang sama, OPEC+ aliansi antara Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu termasuk Rusia condong pada opsi kenaikan produksi kecil lagi di bulan Desember, menurut empat sumber yang mengetahui pembahasan internal kepada Reuters.
Setelah bertahun-tahun memangkas produksi demi menopang pasar minyak, kelompok ini mulai membalikkan pemangkasan tersebut sejak April.
Investor juga akan memperhatikan peluang tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok, yang merupakan dua konsumen minyak terbesar dunia, dengan Trump dan Presiden Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada hari Kamis di Korea Selatan.(yds)
Sumber: Reuters.com