OPEC+ Buka Keran, Harga Minyak Ikut Lemas
Harga minyak turun pada Selasa (28/10), yang mencatat penurunan tiga hari berturut-turut, karena rencana OPEC+ untuk menaikkan produksi dianggap lebih dominan oleh pasar dibanding optimisme soal kemungkinan kesepakatan dagang AS–Tiongkok.
Kontrak berjangka minyak Brent turun 83 sen atau 1,26% ke $64,79 per barel pada pukul 07.57 GMT. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 75 sen atau 1,22% ke $60,56 per barel.
“Para pelaku pasar mencermati progres pembicaraan dagang AS–Tiongkok dan prospek pasokan secara keseluruhan,” tulis ANZ dalam catatan pagi.
Pelemahan harga ini terjadi setelah Brent dan WTI pekan lalu mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Juni, sebagai respons terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump menjatuhkan sanksi terkait Ukraina terhadap Rusia untuk pertama kalinya di masa jabatan keduanya, menargetkan perusahaan minyak Lukoil dan Rosneft. Investor masih mencoba mengukur seberapa efektif sanksi tersebut terhadap Rusia.
OPEC+, yang merupakan kelompok negara-negara pengekspor minyak OPEC dan sekutunya termasuk Rusia, disebut condong untuk kembali menaikkan produksi secara moderat pada Desember, menurut empat sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.
Setelah beberapa tahun memangkas produksi demi menopang pasar minyak, kelompok ini mulai membalikkan pemangkasan tersebut sejak April.
Namun ada faktor penahan tekanan jual: prospek tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok, dua konsumen minyak terbesar di dunia. Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada Kamis di Korea Selatan.
Beijing berharap Washington bisa “bertemu di tengah jalan” untuk mempersiapkan “interaksi tingkat tinggi” antara kedua negara, kata Menteri Luar Negeri Wang Yi kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam panggilan telepon pada Senin.
Setelah sanksi AS diumumkan, produsen minyak terbesar kedua Rusia, Lukoil, mengatakan pada Senin bahwa mereka akan menjual aset internasionalnya. Ini adalah langkah paling signifikan sejauh ini yang diambil perusahaan Rusia setelah sanksi Barat terkait perang Rusia di Ukraina, yang dimulai pada Februari 2022.(yds)
Sumber: Reuters.com