Harga Minyak Stabil Ditengah Kesepakatan AS–Tiongkok
Harga minyak berhasil pulih dari pelemahan awal pada Senin, karena optimisme terkait kerangka kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok menahan kekhawatiran pasar tentang lemahnya permintaan minyak mentah.
Kontrak berjangka Brent turun 14 sen, atau hampir 0,2%, menjadi $65,70 per barel pada pukul 12:27 GMT. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 9 sen, atau 0,2%, menjadi $61,41. Kedua kontrak tersebut sempat melemah sekitar 1% pada awal sesi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Minggu bahwa pejabat AS dan Tiongkok telah merumuskan sebuah “kerangka substansial” untuk kesepakatan dagang yang bisa mencegah tarif 100% AS atas barang-barang Tiongkok dan menunda kontrol ekspor rare earth dari pihak Tiongkok dalam pembicaraan dagang pekan ini.
Pernyataan itu mendorong bursa saham global naik pada Senin, sementara aset safe haven seperti emas dan obligasi terkoreksi — minyak juga ikut terbantu.
KEKHAWATIRAN PERMINTAAN MASIH MEMBEBANI MINYAK
“Pelaku pasar minyak jauh lebih skeptis terhadap kesepakatan dagang dibanding pelaku pasar saham. Suasana negosiasi yang terlihat cerah bukan berarti permintaan langsung naik,” kata analis PVM Oil Associates, John Evans.
Kekhawatiran soal lemahnya permintaan terus menekan pasar, dengan Brent sempat turun ke level terendah sejak Mei pada awal bulan ini. Tapi sanksi baru AS terhadap Rusia serta permintaan AS yang lebih kuat dari perkiraan membantu menahan penurunan harga.
“Harapan untuk kubu bullish adalah konsumsi di AS terus pulih. Kalau tidak, penurunan perlahan yang kita lihat hari ini kemungkinan bakal makin dalam,” ujar Chris Beauchamp, kepala analis pasar di IG Bank.
Sementara itu Irak yang merupakan negara OPEC yang selama ini produksi minyaknya melebihi kuota — sedang bernegosiasi soal besaran kuota produksinya dalam kapasitas tersedia sebesar 5,5 juta barel per hari, kata Menteri Minyak Hayan Abdel-Ghani dalam sebuah konferensi minyak pada Senin.
OPEC dan sekutunya tahun ini mengubah arah kebijakan dengan membalikkan pemangkasan produksi sebelumnya demi merebut kembali pangsa pasar, langkah yang turut membantu menahan laju kenaikan harga minyak.(yds)
Sumber: Reuters.com