Minyak Turun Lagi, Rally Sudah Habis?
Harga minyak turun lebih dari 1% pada perdagangan Senin (27/10) setelah pejabat ekonomi AS dan Tiongkok menyusun kerangka awal kesepakatan dagang.
Pasar melihat langkah ini sebagai tanda tensi tarif dan kontrol ekspor mulai mereda antara dua konsumen minyak terbesar dunia. Dengan risiko perang dagang yang menurun, kekhawatiran soal perlambatan ekonomi global ikut turun dan itu justru membuat harga minyak melemah.
Minyak Brent turun 1,1% ke sekitar $65,19 per barel, sementara WTI turun 1,2% ke kisaran $60,79 per barel.
Washington menyebut ancaman tarif 100% atas barang-barang Tiongkok “pada dasarnya dihindari,” dan Beijing sepakat menunda kontrol ekspor mineral tanah jarang. Ini bikin pasar lebih tenang soal pasokan dan permintaan global. Namun analis memperingatkan: meski tensi AS–Tiongkok mereda, pasar minyak masih belum aman.
Jika sanksi AS terhadap raksasa energi Rusia seperti Rosneft dan Lukoil ternyata tidak seefektif yang diharapkan, Rusia bisa saja banting harga lebih dalam dan pakai armada kapal “bayangan” untuk tetap jual minyak murah. Itu bisa menambah tekanan suplai dan bikin harga turun lagi.
Di sisi lain, OPEC+ juga jadi perhatian. Irak — salah satu anggota yang sering produksi di atas kuota — sedang bernegosiasi ulang batas produksinya, dengan kapasitas hingga 5,5 juta barel per hari.
Tahun ini, kelompok OPEC+ cenderung menaikkan kembali produksi demi merebut pangsa pasar, bukan lagi menahan suplai ketat seperti sebelumnya. Artinya, walaupun harga minyak sempat ditopang faktor geopolitik, ancaman kelebihan pasokan global masih nyata dan bisa menahan kenaikan harga dalam waktu dekat.(yds)
Sumber: Reuters.com