Minyak Naik Lagi, Tapi Tahan Lama Nggak?
Harga minyak dunia naik karena pasar makin yakin hubungan dagang AS–Tiongkok akan agak adem. Harapan deal antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bikin investor melihat prospek permintaan energi global jadi lebih positif. Brent sekarang bergerak di kisaran sekitar $66,4 per barel dan WTI di kisaran $61,9 per barel pada awal perdagangan Senin, 27 Oktober 2025. Keduanya lanjut menguat setelah kenaikan kuat minggu lalu.
Sentimen ini muncul setelah negosiator AS dan Tiongkok bilang mereka sudah mencapai kesepakatan awal di beberapa isu sensitif, dari tarif sampai kontrol ekspor. Ancaman tarif 100% untuk barang-barang Tiongkok disebut “praktis sudah tidak berlaku,” dan Beijing dikabarkan siap menahan ekspor mineral langka selama setahun. Pasar baca ini sebagai sinyal: risiko perang dagang langsung turun, ekonomi global bisa bernapas sedikit lebih lega, dan konsumsi minyak bisa tetap kuat.
Di saat yang sama, harga minyak juga ditopang faktor geopolitik lain: Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada dua produsen minyak terbesar Rusia. Sanksi ini bikin ekspor minyak Rusia ke pembeli besar seperti India dan Tiongkok jadi lebih ribet dan mahal, sehingga negara-negara itu harus cari alternatif pasokan. Itu bantu menahan harga supaya tidak jeblok, walaupun pasar minyak sebenarnya masih dihantui isu kelebihan pasokan dari OPEC+ dan stok global yang longgar.
Meski suasananya lagi bullish, analis bilang reli minyak ini belum tentu liar. Pasokan global masih dianggap berlebih, jadi kenaikannya cenderung dibatasi di area atas $60-an per barel, bukan langsung lompat tinggi. Artinya, momentum minyak saat ini masih sangat bergantung pada dua hal: 1) apakah deal dagang AS–Tiongkok benar-benar jadi saat Trump–Xi ketemu minggu ini, dan 2) apakah sanksi Rusia benar-benar mengurangi suplai fisik, bukan cuma bikin alur dagang muter lewat jalur baru.(asd)
Sumber: Newsmaker.id