• Thu, Jul 16, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

16 July 2026 20:20  |

Minyak Tembus US$85, Risiko Pasokan Timur Tengah Makin Besar

Harga minyak kembali menguat setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah semakin meningkat. Brent, sebagai acuan global, bergerak di atas US$85 per barel setelah sempat melemah pada awal perdagangan. Dalam tiga sesi sebelumnya, harga minyak sudah naik sekitar 12%.

Kenaikan harga dipicu oleh berlanjutnya serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Reuters melaporkan bahwa Teheran meminta kelompok Houthi di Yaman menutup jalur pelayaran Laut Merah jika infrastruktur listrik Iran diserang. Jalur tersebut menjadi penting bagi ekspor minyak Arab Saudi, terutama saat arus melalui Selat Hormuz terganggu akibat perang Iran.

Selat Hormuz tetap menjadi titik utama perhatian pasar. Iran berulang kali mengancam akan menutup jalur tersebut, sementara serangan terhadap kapal pada pekan ini telah menekan aktivitas pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia. Komando Pusat AS menyebut jumlah kapal yang melintas dengan dukungan Amerika pada Selasa malam berada di kisaran dua digit.

Ketegangan semakin besar setelah Presiden AS Donald Trump berjanji akan meningkatkan serangan terhadap Iran sampai Teheran berhenti menyerang kapal dan membuka kembali jalur energi tersebut. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump juga mempertimbangkan perluasan operasi militer, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg, lokasi terminal ekspor minyak utama Iran.

Dari sisi pasokan, analis RBC Capital Markets menyebut rata-rata tujuh hari aliran minyak melalui Hormuz turun 4,6 juta barel per hari menjadi 3,9 juta barel per hari sejak pertempuran kembali dimulai. Penurunan ini mencerminkan runtuhnya gencatan senjata, kembali meningkatnya serangan Iran, serta berlakunya lagi blokade AS terhadap pelabuhan Iran.

Dampaknya ke pasar, harga minyak berpotensi tetap tinggi selama risiko gangguan Hormuz belum mereda. Jika pasar mulai melihat gangguan ini sebagai kondisi semi permanen, Brent bisa membawa premi risiko lebih lama, bahkan diperkirakan bertahan sekitar US$5 hingga US$15 per barel di atas harga normal. Kondisi ini dapat memperkuat tekanan inflasi global, mendorong bank sentral tetap hati-hati, menekan aset berisiko, dan membuat sektor energi tetap menjadi perhatian investor utama. (asd)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Minyak Melonjak, Serangan Rudal Iran ke Israel Uji Gencatan ...

Harga minyak menguat tajam pada Senin setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal ke arah Israel, meningkatkan kekhawat...

8 June 2026 07:33
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai