Stok Minyak AS Turun, Pasar Fokus Geopolitik
Stok minyak mentah Amerika Serikat kembali menurun tajam pada pekan yang berakhir 5 Juni 2026, menandai penurunan mingguan ketujuh berturut-turut. Menurut data terbaru, persediaan minyak anjlok 7,228 juta barel, jauh melampaui perkiraan analis yang memprediksi penurunan 4 juta barel saja. Lokasi penyimpanan di Cushing, Oklahoma, juga turun 801.000 barel, memperpanjang tren penurunan yang berlanjut selama hampir dua bulan.
Aktivitas kilang meningkat, dengan pengolahan minyak naik 81.000 barel per hari, menunjukkan permintaan pengolahan tetap tinggi meski stok menipis. Namun, persediaan bensin justru naik 186.000 barel, berbeda dari perkiraan penurunan 0,5 juta barel, sementara stok distilat seperti diesel dan heating oil meningkat 200.000 barel, dibandingkan ekspektasi penurunan 0,5 juta barel. Tren ini menunjukkan dinamika permintaan yang kompleks di sektor bahan bakar olahan.
Selain itu, impor minyak mentah AS meningkat sebesar 525.000 barel per hari, membantu menutupi sebagian defisit pasokan domestik. Kombinasi penurunan stok mentah, pengolahan kilang yang lebih tinggi, serta kenaikan stok bensin dan distilat, mencerminkan tekanan pasar minyak global yang masih terpengaruh ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
Para analis menyoroti bahwa penurunan persediaan minyak mentah AS ini semakin menguatkan ketegangan pasar, terutama di tengah eskalasi konflik antara AS dan Iran. Risiko gangguan aliran minyak dari Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama, karena wilayah tersebut merupakan jalur transit kritis untuk hampir seperlima minyak dunia.
Dampak fundamental ini membuat investor tetap waspada terhadap harga minyak Brent dan WTI, meski fluktuasi harian cenderung tipis. Brent pada saat ini bergerak di level sekitar US$92 per barel, sedikit naik-turun mengikuti perkembangan stok dan berita geopolitik. Pasokan yang ketat kemungkinan akan terus menopang harga, dengan potensi tekanan naik jika konflik di Timur Tengah kembali meningkat.(yds)
Sumber: Newsmaker.id