Ancaman Eskalasi AS–Iran Tak Menahan Pelemahan Minyak
Harga minyak melemah dalam perdagangan yang volatil hari Selasa (9/6) setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan AS akan merespons penembakan jatuh helikopter militer Apache. Pernyataan itu menghidupkan lagi risiko bentrokan dengan Iran, tetapi pasar tetap menekan harga karena mulai muncul tanda-tanda pelemahan permintaan global.
Brent turun sekitar 3% dan ditutup di US$91,45/barel, sementara WTI turun 3,4% ke US$88,20/barel. Arah harga sempat berubah-ubah karena pelaku pasar menimbang apakah retorika Trump akan berujung eskalasi nyata atau hanya tekanan politik dalam negosiasi.
Trump menuding Iran bertanggung jawab atas insiden Apache di lepas Oman, memunculkan kekhawatiran bahwa gencatan yang rapuh bisa runtuh dan proses damai kembali buntu. Namun Trump tidak merinci bentuk respons, sementara gencatan sejauh ini masih bertahan meski beberapa kali diuji oleh bentrokan dan perang bayangan di kawasan.
Di sisi fundamental, tekanan utama justru datang dari permintaan. Pembelian minyak China dari luar negeri turun ke sekitar 7,8 juta bph bulan lalu, level terendah lebih dari delapan tahun dan jauh di bawah rata-rata 2025. Pelemahan permintaan dari importir terbesar dunia ini memberi ruang bernapas bagi suplai global, apalagi ketika ekspor AS meningkat dan cadangan darurat dilepas untuk menahan krisis.
Ada pula indikasi arus minyak mulai sedikit bergerak kembali meski Selat Hormuz masih efektif “terkunci” oleh blokade ganda Iran-AS. Kuwait menawarkan minyak ke kilang Asia, sinyal bahwa pasokan dari kawasan bisa mulai mengalir meski belum normal. Pasar menilai pemulihan penuh tetap jauh karena pembersihan ranjau, restart ladang yang shut-in, dan perbaikan infrastruktur energi akan memakan waktu. (arl)*
Sumber: Newsmaker.id