Minyak Stabil, Hormuz Masih Terkunci Meski Israel–Iran Tahan Serangan
Harga minyak bergerak stabil setelah Israel dan Iran menyatakan akan menghentikan serangan satu sama lain usai eskalasi yang sempat mengancam proses negosiasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Brent bertahan di sekitar US$94/barel, sementara WTI berada di atas US$91/barel, mencerminkan pasar yang sedikit lebih tenang, tetapi belum benar-benar lepas dari premi risiko.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya menahan tembakan ke Iran untuk saat ini, namun akan merespons jika Iran menyerang lagi. Media Iran juga menyampaikan nada serupa, sehingga pasar menangkap sinyal de-eskalasi jangka pendek. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyerukan penurunan ketegangan agar jalur diplomasi tidak kembali terputus.
Meski serangan mereda, masalah inti pasokan belum selesai. Selat Hormuz masih efektif tertutup karena blokade ganda oleh Teheran dan Washington, sehingga aliran minyak mentah, produk BBM, dan gas ke pasar global tetap tersendat. Kondisi ini membuat harga minyak sulit turun dalam meski tensi militer sementara menurun.
Risiko kawasan juga masih terasa dari sisi keamanan pelayaran. Militer AS melaporkan sebuah tanker kosong di Teluk Oman dilumpuhkan setelah mencoba menuju pelabuhan Iran dan dianggap melanggar blokade. Israel juga menyebut telah mencegat sasaran udara mencurigakan dari Yaman, menggarisbawahi bahwa ancaman tidak hanya berasal dari satu front.
Trump mengatakan AS menargetkan “kemenangan total” dalam dua pekan ke depan dan mengklaim harga minyak akan turun setelah konflik berakhir. Namun pasar menilai pemulihan arus minyak tetap membutuhkan waktu: ranjau di Hormuz harus dibersihkan, ladang yang shut-in perlu restart berbulan-bulan, dan infrastruktur energi yang rusak akibat drone/rudal harus diperbaiki. Karena itu, pergerakan minyak masih sangat bergantung pada headline, sementara pelaku pasar menunggu bukti pemulihan pasokan yang benar-benar nyata.(Asd)*
Sumber: Newsmaker.id