Euro Rebound, PPI AS Batasi
EUR/USD berbalik menguat dan kembali bertahan di atas 1,1700 pada sesi Asia awal Kamis (14/05), dengan pasangan ini diperdagangkan di sekitar 1,1720. Penguatan euro terjadi ketika pasar menilai sinyal hawkish dari pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) mulai mengimbangi dukungan dolar AS setelah data inflasi produsen AS yang lebih panas dari perkiraan.
Dari sisi Eropa, pembicaraan soal risiko inflasi yang terkait perang Iran kembali menguat. Anggota Dewan Gubernur ECB Joachim Nagel mengatakan probabilitas ECB perlu menaikkan biaya pinjaman meningkat, seiring dampak perang Iran terhadap inflasi. Namun, Kepala Ekonom ECB Philip Lane menekankan perlunya menilai dampak konflik terhadap pertumbuhan dan inflasi sebelum mengambil keputusan, serta menyebut penentuan stance kebijakan tetap bergantung pada penilaian.
Ekspektasi pasar juga tercermin dalam survei Reuters. Mayoritas ekonom—sekitar 85% responden—memperkirakan ECB akan menaikkan deposit rate 25 bps menjadi 2,25% pada Juni. Porsi tersebut naik dari “sedikit di atas setengah” yang memprediksi kenaikan sebelum pertemuan ECB April, menandakan pergeseran harga pasar ke arah kebijakan yang lebih ketat.
Di AS, dukungan dolar berasal dari data inflasi grosir yang kuat. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan PPI naik 6,0% (YoY) pada April, meningkat dari 4,3% pada Maret dan lebih tinggi dari konsensus 4,9%, sekaligus menjadi pembacaan terpanas sejak akhir 2022. Pada basis bulanan, PPI naik 1,4% (MoM) dari 0,7% pada Maret dan jauh di atas ekspektasi 0,5%.
Kombinasi data PPI yang panas dan kenaikan ekspektasi suku bunga AS cenderung menopang dolar melalui kanal imbal hasil, sehingga membatasi ruang penguatan euro. Namun, repricing ECB yang makin hawkish memberi penyangga bagi EUR/USD, membuat pergerakan pasangan ini lebih ditentukan oleh tarik-menarik antara ekspektasi kebijakan ECB dan kekuatan dolar pascadata inflasi AS.
Fokus berikutnya adalah rilis US Retail Sales April yang dijadwalkan pada Kamis, yang akan menjadi petunjuk tambahan bagi arah permintaan domestik dan ekspektasi kebijakan The Fed. Pasar juga akan memantau komentar lanjutan pejabat ECB serta perkembangan risiko energi terkait konflik Iran yang berpotensi memengaruhi jalur inflasi dan keputusan suku bunga di kedua sisi Atlantik.(asd)
Sumber: Newsmaker.id