Damai Iran di Ujung Tanduk, Minyak Reli Tajam
Harga minyak ditutup melonjak hampir tiga persen pada perdagangan Senin (11/5) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “on life support.” Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa konflik belum akan segera berakhir dan Selat Hormuz masih tetap tertutup tanpa kepastian waktu pembukaan kembali.
Minyak Brent ditutup naik 2,88% di level US$104,21 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,78% ke US$98,07 per barel. Sepanjang sesi, Brent sempat menyentuh puncak US$105,99 dan WTI menembus US$100,37 sebelum kembali stabil.
Kenaikan ini berbalik dari pelemahan pekan lalu, ketika kedua acuan minyak mencatat penurunan mingguan sekitar enam persen di tengah harapan tercapainya kesepakatan damai yang memungkinkan kembali normalnya arus minyak melalui Selat Hormuz.
Namun sentimen berubah cepat setelah Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian AS dan menyebutnya “stupid” serta “totally unacceptable.” Iran dalam jawabannya menuntut penghentian perang di seluruh front, termasuk Lebanon, serta meminta kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan sanksi, penghentian blokade laut AS, dan jaminan tidak ada serangan lanjutan.
Ketegangan ini membuat Selat Hormuz tetap tertutup, jalur vital yang selama ini menjadi nadi pengiriman minyak global. CEO Saudi Aramco menyebut dunia telah kehilangan sekitar satu miliar barel pasokan dalam dua bulan terakhir, dan pasar energi diperkirakan membutuhkan waktu panjang untuk kembali stabil bahkan jika arus minyak kembali dibuka.
Data Reuters juga menunjukkan produksi OPEC turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade pada April, akibat gangguan ekspor yang dipicu konflik. Sementara itu, ekspor minyak Arab Saudi ke China diperkirakan kembali menurun pada Juni karena harga tinggi dan pasokan yang lebih terbatas.
Di sisi geopolitik, Trump dijadwalkan tiba di Beijing pertengahan pekan ini untuk bertemu Presiden China Xi Jinping, dengan isu Iran menjadi salah satu agenda pembahasan utama.
Analis JPMorgan memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran rendah US$100 untuk sisa tahun ini, dengan normalisasi pasar yang dipandang tidak akan terjadi secara cepat meskipun Selat Hormuz kembali dibuka.
Pasar kini bergerak di antara dua risiko besar: harapan diplomasi yang belum pasti dan potensi eskalasi konflik yang dapat kembali mengguncang pasokan energi global.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id