Perak Melonjak, Ketegangan Iran Dorong Safe Haven
Harga perak melonjak lebih dari 6% ke sekitar US$85,5 per ons pada perdagangan Senin (11/5), berbalik dari pelemahan di awal sesi dan mencapai level tertinggi dalam hampir dua bulan. Kenaikan tajam ini terjadi ketika investor memantau perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali menemui jalan buntu.
Lonjakan terjadi setelah Presiden Donald Trump menolak proposal perdamaian Iran dan menyebutnya sebagai “sepenuhnya tidak dapat diterima,” meningkatkan risiko eskalasi konflik baru. Serangan akhir pekan di kawasan Timur Tengah juga mengguncang gencatan senjata rapuh yang tercapai pada April lalu.
Dengan proses diplomasi yang terhenti, Selat Hormuz masih tertutup, menjaga harga minyak tetap tinggi dan memperbesar kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai seperti logam mulia.
Di sisi kebijakan moneter, ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve semakin memudar. Proyeksi pasar kini terpecah antara peluang pelonggaran terbatas dan skenario tanpa penurunan suku bunga tahun depan.
Pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi konsumen AS serta kunjungan Trump ke China, di mana ia dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping untuk membahas isu Iran, Taiwan, kecerdasan buatan, dan senjata nuklir.
Kombinasi ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter yang belum jelas membuat volatilitas di pasar logam mulia diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat.(Arl)
Sumber: Newsmaker.id