Safe Haven Dukung Dolar, Pasar Waspada Data Inflasi
Dolar AS menguat tipis pada perdagangan Senin (11/5) di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven setelah kebuntuan diplomatik antara Washington dan Teheran. Pelaku pasar juga bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi utama AS pekan ini yang berpotensi mencerminkan dampak lonjakan harga minyak.
Pada pukul 15:43 waktu New York (19:43 GMT), Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya tercatat naik 0,1% ke level 97,96.
Ketegangan meningkat setelah media pemerintah Iran menyebut Teheran telah menyampaikan respons resmi terhadap proposal perdamaian AS untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Dalam respons tersebut, Iran menuntut penghentian perang di semua front, pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz, serta kompensasi dari AS atas kerusakan perang.
Presiden Donald Trump dengan cepat menolak respons tersebut dan menyebutnya “totally unacceptable.” Ia juga menyatakan bahwa Iran tidak menyertakan komitmen untuk menghentikan pengayaan nuklir dalam proposal terbaru, yang menjadi syarat utama Washington. Trump bahkan menyebut gencatan senjata yang sedang berlangsung sebagai “unbelievably weak” dan berada dalam kondisi “massive life support.”
Selain isu nuklir, kendali atas Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial. Jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia itu masih efektif tertutup akibat blokade ganda oleh AS dan Iran. Trump mengatakan sedang mempertimbangkan untuk kembali mengaktifkan operasi “Project Freedom” guna membantu kapal komersial melintasi selat tersebut.
Pasar mata uang kini juga fokus pada rilis Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) bulan April. Investor akan mencermati sejauh mana lonjakan harga minyak akibat konflik memicu tekanan inflasi lebih lanjut. Lonjakan signifikan pada data tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga yang lebih ketat, yang biasanya mendukung penguatan dolar.
Di pasar valuta lain, yuan China menguat tipis dengan pasangan USD/CNY turun 0,1% ke 6,7948 setelah data menunjukkan inflasi konsumen dan produsen China meningkat di atas ekspektasi. Sementara itu, pound sterling melemah 0,1% ke US$1,3620 pasca dinamika politik domestik, dan euro turun 0,1% ke US$1,1776.
Secara keseluruhan, dolar mempertahankan penguatan moderat di tengah kombinasi risiko geopolitik dan ketidakpastian arah inflasi, dengan pasar bersiap menghadapi katalis data penting dalam beberapa hari ke depan. (Arl)*
Sumber: Newsmaker.id