Minyak Bertahan Naik, Trump Klaim Blokade Iran Efektif
Harga minyak bertahan mencatat kenaikan mingguan setelah reli tajam dua pekan terakhir, seiring Presiden AS Donald Trump mengatakan blokade terhadap Iran “berjalan”. Dalam dua minggu, minyak telah melonjak lebih dari 25% karena negosiasi yang buntu memperpanjang nyaris penutupan total jalur laut strategis yang sebelum perang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kekhawatiran pasokan mendorong volatilitas tinggi dan mengubah struktur pasar berjangka, termasuk kurva futures yang makin “flat” ketika pelaku pasar mencoba menilai seberapa parah defisit pasokan ke depan. Di tengah kondisi ini, koreksi harga cenderung cepat dibeli kembali karena ketidakpastian pasokan belum mereda.
ConocoPhillips memperingatkan potensi “kelangkaan kritis” bagi sejumlah negara importir ketika perang memasuki bulan ketiga. CFO Andy O’Brien mengatakan tekanan pasokan kemungkinan memburuk signifikan mulai Juni, terutama karena “masa tenggang” dari tanker yang sempat keluar dari Teluk Persia pada akhir Februari sudah berakhir setelah kargo-kargo tersebut tiba di tujuan.
O’Brien menambahkan, negara-negara yang bergantung pada impor berisiko mulai menghadapi kekurangan pasokan pada periode Juni–Juli. Artinya, risiko tidak lagi hanya tercermin di harga kertas (paper market), tetapi mulai mengarah ke masalah ketersediaan fisik di pasar.
Indikasi pengetatan fisik itu terlihat dari menyempitnya selisih antara harga paper dan harga fisik, sementara ekspor minyak mentah AS melonjak ke rekor pekan lalu karena pembeli global mencari pengganti barel yang hilang dari Timur Tengah. Di Asia pagi ini, Brent Juli naik 0,9% ke US$111,36 per barel dan WTI Juni naik 0,5% ke US$105,61; pasar kini memantau kelancaran arus tanker, tanda-tanda kekurangan di negara importir, serta dampak lanjutan lonjakan energi terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id