Brent Menurun Tajam Setelah Posisi Ditutup Kontrak Jatuh Tempo
Harga minyak Brent melemah setelah sempat menyentuh level tertinggi empat tahun, dengan kontrak acuan Juni turun lebih dari 3% ke bawah US$114 per barel usai sebelumnya melampaui US$126. Pergerakan terjadi saat volume transaksi menipis menjelang jatuh tempo kontrak, memperbesar volatilitas intraday.
Sejumlah pelaku pasar menilai tekanan jual sebagian terkait penyesuaian posisi menjelang expiry, termasuk perpindahan minat ke kontrak Juli yang diperdagangkan lebih rendah. Kontrak Juli tercatat turun sekitar 1,8% ke US$108,45 per barel, mempertegas perbedaan harga antar-kontrak di tengah aktivitas roll-over.
Di sisi fundamental, kenaikan sebelumnya dipicu premi risiko pasokan setelah penutupan Selat Hormuz mendorong lonjakan harga energi. Namun beberapa trader minyak utama memperingatkan guncangan pasokan berpotensi berbalik menekan permintaan, terutama jika harga energi tinggi menggerus aktivitas ekonomi.
Sentimen geopolitik tetap berfluktuasi setelah laporan Axios menyebut Kepala US Central Command, Laksamana Brad Cooper, dijadwalkan memberi pengarahan kepada Presiden AS Donald Trump terkait opsi militer, termasuk rencana serangan singkat dan intens ke target infrastruktur. Iran tetap menyampaikan sikap defian, menambah ketidakpastian arah eskalasi.
Bagi pasar, dinamika ini menjaga minyak berada dalam rezim “headline-driven” dengan dua narasi yang saling tarik-menarik: risiko gangguan pasokan yang memperkuat tekanan inflasi, versus risiko perlambatan ekonomi yang membatasi daya tahan permintaan. Fokus berikutnya tertuju pada perkembangan akses pelayaran di Selat Hormuz, sinyal kebijakan AS terkait koalisi pengamanan jalur laut, serta indikasi pelemahan permintaan dari data aktivitas kawasan utama. (gn)*
Sumber: Newsmaker.id