Minyak Stabil, Hormuz Masih Terkunci
Brent dan WTI bergerak stabil cenderung melemah pada perdagangan Asia (29/4), saat pelaku pasar menunggu langkah berikutnya dalam pembicaraan damai AS–Iran. Brent Juni turun 0,5% ke US$110,70/barel pada 08:03 waktu Singapura, sementara WTI Juni turun 0,8% ke US$99,09/barel.
Meski melemah tipis hari ini, level minyak masih tinggi setelah reli sebelumnya. Brent sempat menguat 2,8% pada Selasa, sementara WTI bertahan di area di atas US$99. Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran meminta AS mencabut blokade angkatan laut di Selat Hormuz agar jalur pengapalan bisa dibuka “secepat mungkin” saat kedua pihak bernegosiasi mengakhiri permusuhan.
Selat Hormuz sendiri nyaris tidak bisa dilalui sejak konflik pecah pada akhir Februari. Pemutusan arus minyak mentah, gas alam, dan produk minyak dari kawasan ikut mengerek harga energi dan memperkuat kekhawatiran inflasi, dengan International Energy Agency menyebut ini sebagai guncangan pasokan terbesar dalam sejarah. Gencatan senjata memang bertahan sejak awal April, tetapi jalur damai masih macet dan blokade laut dinilai menambah tekanan ke Teheran.
Menurut Kpler, Iran cepat kehabisan ruang penyimpanan minyak mentah, yang berisiko mempercepat pemangkasan produksi. Kepala kebijakan dan risiko geopolitik Kpler, Michelle Brouhard, menilai kebuntuan bisa bertahan berminggu-minggu: dorongan perubahan bisa datang dari pasar global yang tidak sanggup menanggung kekurangan pasokan lebih lama, atau dari Iran yang ingin kembali mengekspor minyaknya.
CNN melaporkan mediator memperkirakan Iran akan menyerahkan proposal revisi untuk mengakhiri perang dalam beberapa hari ke depan. Namun, ketidakpastian tetap tinggi karena kedua pihak masih berselisih soal syarat pembukaan Hormuz dan detail kerangka kesepakatan, sementara arus fisik di jalur tersebut masih jauh dari normal.
Di luar diplomasi, struktur pasokan global ikut berubah setelah Uni Emirat Arab mengumumkan akan keluar dari OPEC dan OPEC+ efektif bulan depan, dengan alasan perlunya fleksibilitas merespons permintaan di tengah kelangkaan pasokan akibat perang. AS juga meningkatkan tekanan finansial terhadap Iran: OFAC memperingatkan lembaga keuangan soal risiko sanksi terkait kilang independen China (terutama Shandong) yang terhubung dengan minyak Iran, termasuk sanksi terhadap Hengli pekan lalu. Washington juga mengeluarkan “firm guidance” soal eksposur sanksi bagi pihak yang membayar “toll” untuk melintas Hormuz, di saat Iran mendorong kerangka hukum untuk sistem pembayaran tersebut.
5 poin kunci :
- Brent US$110,70 dan WTI US$99,09: stabil cenderung melemah, tetapi level tetap tinggi.
- Hormuz masih nyaris tertutup; arus energi terganggu dan risiko inflasi tetap menonjol.
- Trump menyebut Iran meminta pencabutan blokade; mediator menunggu proposal revisi dalam beberapa hari.
- Kpler menilai Iran kekurangan ruang simpan, berpotensi memicu pemangkasan produksi lebih cepat.
- UAE keluar OPEC/OPEC+ dan AS memperketat sanksi Iran–China, menambah ketidakpastian pasokan dan volatilitas.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id