Trump Siapkan Blokade Panjang, Pasar Hitung Ulang Risiko Energi
Presiden AS Donald Trump disebut menginstruksikan para pembantunya untuk menyiapkan blokade yang lebih lama terhadap Iran, sebagai upaya menekan pendapatan rezim dan memaksa konsesi terkait program nuklir yang selama ini ditolak Teheran. Dalam sejumlah pertemuan, termasuk pembahasan di Situation Room pada Senin, Trump memilih mempertahankan strategi menekan ekonomi Iran dan ekspor minyaknya dengan membatasi pelayaran keluar-masuk pelabuhan Iran.
Keputusan itu diambil setelah Trump menilai opsi lain melanjutkan pengeboman atau “walk away” dari konflik memiliki risiko lebih tinggi dibanding mempertahankan blokade. Namun blokade juga memperpanjang konflik yang telah mendorong kenaikan harga energi, menekan sentimen domestik AS, dan menjaga arus di Selat Hormuz tetap minimal. Sejak gencatan senjata 7 April, Trump beberapa kali menahan diri dari eskalasi militer, tetapi tetap ingin mempertahankan tekanan sampai Iran memenuhi tuntutan inti: pembongkaran kerja nuklir Iran.
Menurut laporan, Trump menilai proposal Iran yang menawarkan pembukaan Selat Hormuz sementara pembahasan nuklir diletakkan di tahap akhir menunjukkan Teheran tidak bernegosiasi dengan itikad baik. Meski demikian, strategi blokade juga bukan “jalan keluar cepat”: tekanan finansial bisa mengurangi ruang gerak Iran, tetapi tidak menjamin Teheran menyerah, sementara AS harus mempertahankan pengerahan militer lebih lama dan tetap menghadapi risiko balasan terhadap infrastruktur energi kawasan atau aset AS.
Di balik kebuntuan, faktor internal Iran disebut menjadi penghambat diplomasi. Pejabat AS menilai ada tarik-menarik faksi dalam struktur kekuasaan Teheran sehingga negosiator Iran pun harus “bernegosiasi di dalam negeri” sebelum bisa membuat komitmen. Iran dikabarkan meminta waktu beberapa hari untuk berkonsultasi dengan Pemimpin Tertinggi sebelum menyampaikan proposal revisi, sementara mediator regional meragukan tawaran baru akan langsung memicu terobosan.
5 inti poin dampak ke oil, dollar, gold ke depan :
- OIL: premi risiko cenderung bertahan selama blokade berlanjut dan Selat Hormuz belum normal. Bahkan tanpa pengeboman, “perang ekonomi” bisa menjaga pasar fisik ketat dan harga sensitif terhadap headline.
- OIL: risiko lonjakan tetap ada jika Iran merespons tekanan dengan gangguan tambahan pada infrastruktur energi regional atau aksi terhadap aset maritim—pasar akan cepat menambah premi risiko.
- USD: bias dukungan dari risk-off bisa muncul saat ketidakpastian geopolitik dan energi bertahan, terutama jika pasar melihat peluang eskalasi atau gangguan suplai makin lama.
- GOLD: tarik-menarik dua kekuatan—ketegangan geopolitik bisa menopang permintaan lindung nilai, tetapi inflasi energi yang membuat ekspektasi suku bunga lebih tinggi lebih lama biasanya menekan emas (non-yielding). Hasilnya, emas cenderung “choppy” dan headline-driven.
- Kombinasi OIL tinggi + ketidakpastian suku bunga dapat menekan aset berisiko dan mendorong rotasi defensif; jika pasar mulai mem-price-in “adverse scenario” (inflasi naik, pertumbuhan melemah), volatilitas lintas aset termasuk dolar dan emas berpotensi meningkat.(asd)
Sumber: Newsmake.id