Inflasi Australia Masih Tinggi, RBA Kian Hawkish
Inflasi Australia bertahan di atas target Reserve Bank of Australia (RBA) menjelang rapat kebijakan pekan depan, dengan kenaikan biaya bahan bakar akibat gangguan pasokan Timur Tengah menambah tekanan harga yang sudah tinggi. Data Australian Bureau of Statistics pada Rabu menunjukkan trimmed mean CPI tahunan naik 3,5% pada kuartal terakhir, sesuai estimasi ekonom, sementara inflasi inti kuartalan naik 0,8% (di bawah perkiraan 0,9%). RBA menargetkan inflasi di titik tengah kisaran 2–3%.
Meski guncangan energi memperburuk situasi, tekanan inflasi domestik disebut sudah memburuk sebelum konflik, yang mendorong RBA melakukan kenaikan suku bunga beruntun tahun ini untuk menekan permintaan agar kembali sejalan dengan kapasitas pasokan. Dengan inflasi masih lengket di saat aktivitas melemah dan pengangguran naik, pasar menilai RBA berpeluang melanjutkan pengetatan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Jika RBA kembali menaikkan suku bunga pada 5 Mei, cash rate berpotensi naik ke 4,35%, sekaligus membalik seluruh pemangkasan suku bunga tahun lalu. RBA juga akan merilis pembaruan proyeksi makro kuartalan yang diperkirakan menunjukkan tekanan inflasi tetap persisten dalam waktu dekat sementara pertumbuhan PDB melambat. Fokus pasar akan tertuju pada bagaimana RBA menyeimbangkan risiko inflasi dan pertumbuhan, seberapa lama dorongan inflasi dari energi diperkirakan bertahan, serta apakah pelemahan aktivitas menciptakan spare capacity yang cukup untuk mengembalikan inflasi ke target dalam horizon proyeksi.(asd)
Sumber: Newsmake.id