Sell-off Emas, Dolar Menguat dan Yield Menekan
Emas melemah pada Selasa (28/4) karena pasar menilai negosiasi AS–Iran yang berlarut berisiko membuat Selat Hormuz tetap tertutup lebih lama, memperpanjang guncangan pasokan energi dan meningkatkan risiko inflasi. Bullion sempat turun hingga 2,7% menembus jauh di bawah US$4.600/oz sebelum memangkas sebagian rugi setelah Presiden Donald Trump mengatakan Iran meminta AS mencabut blokade laut di jalur vital tersebut.
Iran sebelumnya memberi sinyal terbuka pada “interim deal” untuk membuka Hormuz sebagai imbalan penghentian blokade pelabuhan Iran, sambil menunda negosiasi nuklir. Namun Iran juga ingin mempertahankan sebagian kontrol atas pelayaran di selat itu, yang dinilai sulit diterima Washington. Dengan minyak tetap tinggi dan perang memasuki pekan kedelapan, kekhawatiran inflasi berbasis energi mendorong pasar kembali memperhitungkan skenario suku bunga bertahan ketat lebih lama, atau bahkan peluang kenaikan suku bunga bila tekanan harga berlanjut—kondisi yang biasanya menjadi beban bagi emas non-yielding.
Fokus pekan ini beralih ke rangkaian keputusan bank sentral di AS, Eropa, Inggris, dan Kanada. BOJ sudah menahan suku bunga di 0,75% dengan voting terbelah yang meningkatkan peluang kenaikan pada Juni. Pada 15:18 di New York, spot gold turun 1,8% ke US$4.595,51/oz, perak turun 3,2% ke US$73,13/oz, sementara indeks dolar Bloomberg naik 0,2%. (Arl)*
Sumber: Newsmaker.id