Dolar Menguat Saat Ketegangan Hormuz Memanas dan PMI AS Membaik
Dolar AS menguat pada Kamis (23/4), ditopang kembali oleh permintaan safe haven di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz. Indeks dolar (DXY) naik 0,3% ke 98,77 pada 15:56 ET, ketika pelaku pasar menilai perpanjangan gencatan senjata AS–Iran belum menjadi terobosan karena insiden pelayaran dan retorika keras kedua pihak masih berlanjut.
Presiden Donald Trump mengatakan ia memerintahkan Angkatan Laut AS untuk “menembak dan membunuh” kapal yang menebar ranjau di perairan Hormuz, dan meningkatkan operasi penyapuan ranjau. Di sisi lain, Axios melaporkan Iran menambah ranjau di selat tersebut. Ketegangan bertambah setelah AS menyatakan menahan tanker terkait Iran dan Iran merilis video yang menunjukkan pasukannya menaiki kapal kargo dekat selat. U.S. Central Command menyebut telah mengalihkan 33 kapal sejak blokade dimulai, sementara Iran sebelumnya menyerang tiga kapal dan menyita dua di antaranya.
Penguatan dolar juga dipacu faktor makro. Data flash PMI AS yang lebih baik mengindikasikan aktivitas bisnis AS kembali menguat pada April setelah sempat melambat pada Maret. Di saat bersamaan, harga minyak yang kembali bertahan di atas US$100/barel memperkuat kekhawatiran inflasi energi, mendorong pasar makin ragu terhadap pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Komentar Kevin Warsh—kandidat Trump untuk Ketua The Fed—yang menegaskan independensi bank sentral dan tidak berkomitmen memangkas suku bunga, turut memperkuat persepsi kebijakan akan tetap ketat. Survei Reuters juga menunjukkan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menunggu setidaknya enam bulan sebelum menurunkan suku bunga.
Di Eropa, euro tertekan oleh sinyal pelemahan aktivitas. EUR/USD turun 0,2% ke US$1,1687 setelah data S&P Global menunjukkan output sektor swasta zona euro masuk wilayah kontraksi pada April, mengakhiri 15 bulan ekspansi. GBP/USD melemah 0,3% ke US$1,3467, sementara USD/JPY naik 0,1% ke 159,68 seiring yen melemah tipis.
Pasar FX kini tetap headline-driven. Variabel yang dipantau mencakup intensitas insiden kapal dan ranjau di Hormuz, efektivitas penegakan blokade, arah harga minyak terhadap ekspektasi inflasi, serta rilis data AS berikutnya yang dapat mengubah penilaian pasar terhadap jalur suku bunga The Fed.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id