Emas Melemah Saat Dolar dan Minyak Melonjak
Harga emas turun pada Kamis (23/04), tertekan penguatan dolar AS di tengah lonjakan harga minyak yang kembali memanaskan kekhawatiran inflasi berbasis energi. Spot gold melemah 0,2% ke US$4.730,15 per ons, sementara emas berjangka turun 0,1% ke US$4.747,16 pada 09:57 ET.
Sentimen pasar tetap rapuh karena ketidakpastian arah konflik AS-Iran dan minimnya kemajuan pembicaraan lanjutan, meski Presiden Donald Trump pekan ini memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu. Iran dan AS sama-sama memberi sinyal kecil untuk kembali bernegosiasi: Teheran menuntut pencabutan blokade sebelum dialog, sementara Washington meminta pembukaan penuh Selat Hormuz.
Sementara itu, hambatan di Selat Hormuz menjaga premi risiko energi tetap tinggi. Harga minyak kembali menembus US$103 per barel minggu ini, seiring kekhawatiran gangguan pasokan di jalur sempit yang menjadi lintasan sekitar seperlima minyak dunia, sehingga memperbesar risiko “energy shock” yang dapat mempercepat tekanan harga.
Kenaikan minyak menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa bank sentral global dapat mempertimbangkan sikap lebih ketat bila inflasi kembali naik, kondisi yang biasanya kurang mendukung aset tanpa imbal hasil seperti emas. Pada saat yang sama, dolar yang menguat membuat emas lebih mahal bagi pembeli di luar AS; greenback juga berada di jalur penguatan mingguan pertama dalam sebulan karena investor mencari perlindungan relatif di tengah outlook konflik yang masih buram.
Di luar emas, tekanan meluas ke logam mulia lain. Perak spot turun 4,3% ke US$74,3705 per ons dan platinum spot melemah 3,5% ke US$2.005,92, mencerminkan kombinasi penguatan dolar dan sensitivitas pasar terhadap jalur inflasi-suku bunga yang kembali ditentukan oleh dinamika energi dan geopolitik. (gn)*
Sumber: Newsmaker.id