AS–Iran Saling Kunci Hormuz, Premi Risiko Energi Bertahan Saat Talk Tertahan
Amerika Serikat dan Iran saling berebut kendali Selat Hormuz setelah putaran baru pembicaraan damai gagal terlaksana, dengan kedua pihak membatasi jalur pelayaran untuk menambah daya tawar di tengah perpanjangan gencatan senjata. Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata 7 April akan diperpanjang tanpa batas sambil menunggu Iran mengajukan proposal perdamaian baru, namun Teheran menyatakan belum berencana segera kembali bernegosiasi. Gedung Putih menegaskan presiden belum menetapkan tenggat pasti untuk menerima proposal Iran.
Di lapangan, tensi maritim meningkat ketika Iran menyita dua kapal kargo di Hormuz dan ada laporan tembakan terhadap kapal komersial di area selat. Iran menyebut penyitaan dilakukan karena kapal melintas tanpa izin yang diperlukan, sementara pihak pemantau keamanan maritim Inggris melaporkan insiden serangan terhadap kapal di kawasan tersebut. Di sisi lain, AS mempertahankan blokade laut terhadap kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran, dan militer AS menyebut telah mengalihkan puluhan kapal sejak blokade diberlakukan. Ketegangan ini mengikis keyakinan pemulihan cepat arus energi melalui Hormuz.
Dampaknya tercermin pada harga energi. Brent kembali menguat di atas US$101 per barel, sementara pasar fisik tetap menandakan keketatan pasokan jangka pendek dengan Dated Brent berada di atas US$107 per barel. Kenaikan energi ikut mendorong harga bensin AS ke level tertinggi hampir empat tahun, memperbesar sensitivitas politik dan meningkatkan risiko inflasi yang dapat menahan ruang pelonggaran suku bunga.
Pasar kini menunggu apakah Iran akan mengajukan proposal yang diminta Washington, apakah parameter blokade akan berubah, serta apakah mediator mampu menjadwalkan kembali pertemuan dalam beberapa hari ke depan. Variabel yang paling menentukan adalah keamanan pelayaran di Hormuz (termasuk ranjau dan insiden penembakan), volume kapal yang benar-benar bisa melintas, serta respons harga minyak fisik yang menjadi barometer keketatan pasokan jangka pendek.(Arl)
Sumber: Newsmaker.id