Minyak Loyo, Pasar Ngeri Deal Ukraina & OPEC+
Harga minyak bergerak melemah tipis pada Kamis, setelah sempat menguat lebih dari 1% di sesi sebelumnya. WTI Januari diperdagangkan di kisaran US$58, sementara Brent kontrak Januari bertahan sedikit di atas US$63 per barel. Pergerakan ini mencerminkan pasar yang mulai berhati-hati setelah reli singkat, dengan minat beli terbatas menjelang libur Thanksgiving di AS.
Fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada upaya diplomasi perang Rusia–Ukraina. Utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, dijadwalkan memimpin delegasi ke Rusia pekan depan untuk melanjutkan pembicaraan. Investor mencoba menghitung, jika ada kesepakatan, seberapa besar dan seberapa cepat dampaknya terhadap aliran minyak Rusia ke pasar global.
Di saat yang sama, pelaku pasar juga menunggu pertemuan OPEC+ pada 30 November. Delapan anggota aliansi tersebut sebelumnya sudah sepakat menghentikan rencana kenaikan produksi di kuartal I tahun depan, setelah sepanjang 2025 mereka agresif menambah pasokan. Keputusan ini akan menjadi kunci apakah surplus pasokan bisa dikendalikan atau justru makin melebar.
Secara tren bulanan, harga minyak masih mengarah ke penurunan bulan keempat berturut-turut, yang berpotensi menjadi rangkaian pelemahan terpanjang sejak 2023. Kekhawatiran surplus pasokan yang terus membesar, ditambah spekulasi bahwa kesepakatan damai dapat membuka kembali lebih banyak barel Rusia, terus menekan sentimen. Namun banyak trader menilai, tanpa kenaikan pasokan fisik yang nyata, efek damai Ukraina ke pasar minyak bisa butuh waktu.
Untuk jangka pendek, pergerakan harga berpotensi tetap terbatas. Likuiditas pasar cenderung menipis karena libur di AS, sementara pelaku pasar memilih menunggu kepastian dari dua faktor besar: hasil diplomasi Ukraina–Rusia dan keputusan resmi OPEC+ akhir pekan ini. Kombinasi keduanya akan menentukan apakah minyak bertahan di level sekarang, melanjutkan tren turun, atau justru berbalik menguat jika risiko pasokan kembali mengemuka.(asd)
Sumber : Newsmaker.id