Emas Turun, Dolar Kembali Menekan!
Harga emas kembali melemah pada perdagangan Kamis (13/08) dan turun di bawah level US$4.400 per troy ons setelah sebelumnya sempat menyentuh area US$4.450, level tertinggi sejak 5 Juni. Tekanan muncul menjelang sesi Eropa ketika dolar AS kembali menguat.
Sentimen positif dari data inflasi AS mulai kehilangan tenaga. CPI Juli sebelumnya turun menjadi 3,4% secara tahunan dari 3,5%, sementara Core CPI tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan, sesuai dengan perkiraan pasar.
Data tersebut sebenarnya memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga pada September, terlebih setelah laporan NFP sebelumnya menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja. Kondisi ini sempat mendorong emas naik karena ekspektasi kenaikan suku bunga jangka pendek berkurang.
Namun, kekhawatiran inflasi kembali muncul akibat harga minyak yang masih tinggi dan volatil. Pasar menilai tekanan energi dapat kembali mendorong inflasi pada bulan-bulan berikutnya, sehingga peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga The Fed sepanjang 2026 masih tetap terbuka.
Ketegangan geopolitik AS-Iran juga memberikan efek yang berbeda terhadap emas. Risiko konflik seharusnya mendukung permintaan safe haven, tetapi pada saat yang sama dolar AS ikut mendapat aliran dana defensif. Penguatan dolar tersebut membatasi kemampuan emas mempertahankan kenaikan di area US$4.450.
Analisis Newsmaker: Kegagalan emas mempertahankan area US$4.400 menunjukkan pasar mulai melakukan profit taking setelah reli pasca-CPI. Selama dolar dan yield kembali menguat, gold berisiko menguji area US$4.370-US$4.350. Namun, struktur fundamental belum sepenuhnya bearish karena CPI yang terkendali dan tenaga kerja yang melemah masih mendukung peluang The Fed menahan suku bunga. Fokus berikutnya tertuju pada PPI AS yang dapat menentukan apakah gold kembali menembus US$4.400 atau melanjutkan koreksi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id