Emas Terkoreksi Tipis, Pasar Menanti CPI AS
Harga emas bergerak melemah tipis pada perdagangan Selasa (11/8), tetapi masih bertahan dekat level tertinggi lebih dari dua bulan. Emas spot turun sekitar 0,3% ke US$4.376,31 per troy ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh US$4.434,84, level tertinggi sejak 5 Juni.
Emas sempat mencoba menembus rata-rata pergerakan 100 hari yang berada di sekitar US$4.387,92. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru ditutup naik sekitar 0,5% ke US$4.441,10, menunjukkan minat beli masih cukup kuat meski pasar mulai berhati-hati.
Fokus investor kini beralih ke data inflasi AS. CPI akan dirilis Rabu, kemudian dilanjutkan PPI pada Kamis. Pasar ingin melihat apakah tekanan inflasi benar-benar mulai terkendali setelah data tenaga kerja Juli yang lemah sebelumnya menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan mendorong emas naik 2,4% dalam satu sesi.
Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang. Pasar masih memperkirakan sekitar 50% peluang kenaikan suku bunga pada September dan sekitar 79% pada Desember. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack juga menilai kenaikan suku bunga secara bertahap dapat diperlukan untuk mencegah inflasi kembali meningkat.
Dari sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran masih menjadi penopang sentimen safe haven. Presiden Donald Trump kembali mengajukan tuntutan kepada Teheran dalam proses negosiasi damai, sementara harga minyak tetap berada dekat level tertinggi satu minggu. Kondisi ini menjaga risiko inflasi energi tetap tinggi.
Analisis Newsmaker: Emas masih menunjukkan struktur bullish setelah reli kuat pekan lalu, tetapi area US$4.388–US$4.435 menjadi resistance penting. Jika CPI lebih rendah dari perkiraan, peluang emas menembus area tersebut akan semakin besar. Sebaliknya, CPI yang lebih panas dapat mengangkat yield dan dolar, sehingga memicu koreksi kembali menuju area US$4.350–US$4.360.(yds)
Sumber: Newsmaker.id