Brent Dekati US$90, Konflik AS-Iran Kembali Panaskan Minyak
Harga minyak bertahan menguat setelah mencatat menampilkan harian terbesar dalam lebih dari dua pekan. Brent bergerak mendekati US$90 per barel setelah melonjak hampir 8% pada sesi sebelumnya, sementara West Texas Intermediate atau WTI berada di bawah US$84 per barel.
Penguatan harga minyak terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran. Trump mengatakan Iran akan mendapat pukulan keras setelah adanya serangan terhadap pasukan AS di Yordania.
Konflik AS-Iran diperkirakan masih berisiko larut karena kedua pihak belum mencapai titik temu terkait Selat Hormuz dan gencatan senjata. Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian karena menjadi jalur penting pengiriman minyak dari Teluk Persia ke pasar global.
Dukungan lain bagi minyak datang dari penurunan stok minyak mentah komersial AS ke level terendah sejak 2018. Cadangan Strategis Minyak AS juga turun untuk pekan ke-18 berturut-turut dan berada di level terendah sejak 1983, memperkuat sinyal bahwa pasar fisik energi semakin ketat.
Dari sisi dampak pasar, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil karena pasar menyeimbangkan risiko konflik Timur Tengah, gangguan jalur Hormuz, dan ancaman Houthi terhadap jalur Laut Merah. Jika pasokan global terus mengetat, Brent berpeluang tetap tertopang di wilayah tinggi. Namun kenaikan minyak juga dapat meningkatkan tekanan inflasi, menjaga ekspektasi suku bunga tetap tinggi, dan menekan sentimen pada saham serta aset berisiko. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id