Emas Jatuh, Minyak Picu Alarm Inflasi
Harga emas melemah hampir 2% pada perdagangan Kamis (23/7) setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam dua pekan. Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat kemungkinan Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneternya tetap ketat, meskipun risiko geopolitik terus meningkat.
Pada pukul 10.14 waktu New York, emas spot turun 1,9% menjadi US$4.049,48 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas melemah 2,4% ke level US$4.051,72 per troy ounce. Sebelumnya, logam mulia tersebut telah menguat sekitar 3% dalam dua sesi perdagangan terakhir.
Tekanan terhadap emas muncul ketika konflik antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas. Kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali ke meja perundingan, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Laut Merah.
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan terhadap pengiriman minyak dari kawasan Teluk dapat meluas di luar Selat Hormuz. Pasar mulai memperhitungkan risiko terhadap jalur pelayaran lain yang juga penting bagi distribusi energi global.
Harga minyak pun melanjutkan penguatan. Brent menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei setelah Houthi mengklaim serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran bahwa pasokan minyak global dapat mengalami gangguan lebih luas.
Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya energi, transportasi, dan produksi, sehingga tekanan inflasi dapat kembali menguat. Situasi tersebut memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Prospek suku bunga yang lebih tinggi menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika yield obligasi meningkat, biaya peluang untuk memegang emas ikut naik sehingga investor cenderung beralih ke aset berbunga.
Meski terkoreksi, emas masih mampu bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce. Pasar kini mengamati apakah harga dapat kembali membangun momentum untuk menguji area resistance di sekitar US$4.200, setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam dari rekor tertinggi Januari.(arl)
Sumber : Newsmaker.id