• Thu, Jul 23, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

23 July 2026 21:36  |

Trump Ancam Akan Melakukan Pembalasan Besar-besaran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman apabila kelompok tersebut kembali menargetkan kapal-kapal Arab Saudi. Ancaman itu muncul ketika perang antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan tanda-tanda meluas ke jalur pelayaran penting lain di kawasan Teluk dan Laut Merah.

Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi pada Kamis. Kapal-kapal tersebut diidentifikasi sebagai Encelia dan Layla, yang menurut Houthi diserang menggunakan rudal serta pesawat nirawak.

Houthi sebelumnya memperingatkan akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Kelompok tersebut menguasai wilayah di dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu rute utama perdagangan energi global.

Kapal Encelia dilaporkan terkena serangan hingga mengalami kebakaran. Sementara itu, serangan terhadap Layla belum dapat dikonfirmasi secara independen. Insiden tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan kapal tanker yang melintasi Laut Merah.

Melalui media sosial, Trump menyatakan bahwa Houthi sebelumnya telah bertindak relatif terkendali setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap kelompok itu pada tahun lalu. Namun, ia memperingatkan bahwa serangan tambahan terhadap kapal Saudi akan memicu hukuman militer besar.

Trump juga menegaskan bahwa Washington akan meminta pertanggungjawaban Iran karena menganggap Houthi sebagai kelompok proksi Teheran. Menurutnya, tindakan militer dapat diarahkan tidak hanya kepada Houthi, tetapi juga terhadap Iran apabila serangan kembali terjadi.

Ancaman tersebut telah memengaruhi pergerakan kapal tanker di kawasan. Sejumlah kapal di Laut Merah dilaporkan mengubah arah untuk menghindari potensi serangan. Kapal-kapal yang membawa minyak Saudi menuju China dan India juga terpaksa berbalik arah.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa gangguan pasokan minyak kini berpotensi meluas dari Selat Hormuz menuju Bab el-Mandeb. Jika kedua jalur strategis tersebut sama-sama terganggu, pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah ke pasar global dapat menghadapi tekanan yang lebih besar.

Sejumlah analis menilai perluasan gangguan pasokan dapat menjadi alat bagi Iran untuk meningkatkan posisi tawarnya dalam konflik dengan Washington. Penutupan efektif Selat Hormuz sebelumnya telah mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gelombang inflasi global.

Gangguan yang berlangsung lama juga dapat memaksa kapal tanker memutar melalui selatan Afrika. Perjalanan yang lebih panjang akan meningkatkan konsumsi bahan bakar, biaya pengiriman, tarif sewa kapal, serta premi asuransi.

Kekhawatiran terhadap pasokan melalui Bab el-Mandeb mendorong kontrak berjangka Brent kembali bergerak di atas US$98 per barel pada perdagangan Kamis. Sebelumnya, harga minyak sempat turun mendekati level sebelum konflik, sekitar US$70 per barel, setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kerangka gencatan senjata pada Juni.

Namun, kembali meningkatnya aksi militer antara kedua negara memicu lonjakan baru harga minyak. Pasar kini kembali memperhitungkan risiko gangguan terhadap produksi, ekspor, serta jalur pengiriman energi dari kawasan Teluk.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berharap Houthi memilih meredakan ketegangan. Ia menilai kelompok tersebut telah dimanfaatkan Iran untuk ikut terseret lebih jauh ke dalam konflik.

Pernyataan Rubio disampaikan setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada malam sebelumnya. Militer AS mengatakan serangan terbaru ditujukan untuk mengurangi kemampuan Iran dalam menargetkan kapal komersial, sekaligus menghantam fasilitas penyimpanan senjata dan sistem pertahanan udara.

Iran juga terus membalas serangan Amerika Serikat. Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim telah menyerang sasaran militer AS di Kuwait.

Teheran turut menyatakan telah menguasai Selat Hormuz dan menyebut jalur tersebut sepenuhnya tertutup. Iran memperingatkan bahwa kapal tanker minyak tidak akan diizinkan melintas tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan otoritas setempat.

Perkembangan ini membuat pasar energi menghadapi risiko yang semakin besar. Apabila gangguan meluas dari Hormuz ke Bab el-Mandeb, harga minyak berpotensi tetap tinggi karena pasar harus memperhitungkan berkurangnya pasokan, kenaikan biaya angkut, dan risiko keamanan terhadap kapal tanker.

Lonjakan harga minyak selanjutnya dapat meningkatkan biaya energi dan transportasi, mendorong inflasi, serta memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral global. Karena itu, perkembangan konflik AS–Iran dan aktivitas Houthi akan tetap menjadi perhatian utama pasar komoditas. (arl)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL

China Konfirmasi Kunjungan Trump, Pasar Siaga!

Tiongkok mengumumkan rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok pada 13–15 Mei, dengan agenda pertemuan tingkat...

11 May 2026 08:12
GLOBAL

Iran Balas Serangan AS, Tapi Pilih Jalur Diplomasi?

Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serik...

24 June 2025 07:49
GLOBAL

Teluk Membara, Hormuz Terkunci Lagi?

Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat saling serang besar pada Minggu, menjadi eskalasi paling berat dalam beberapa bulan...

13 July 2026 07:39
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai