Minyak Menguat, Brent Bisa Tembus US$100
Harga minyak kembali mendapat dorongan dari meningkatnya risiko geopolitik setelah eskalasi konflik di Timur Tengah terus menekan arus pasokan. Analis menilai gangguan aliran minyak oleh Iran kembali membuka peluang skenario kenaikan harga yang lebih ekstrem jika konflik berlangsung lebih lama.
TD Securities menyebut para pelaku pasar berbasis tren atau CTA mulai kembali menjadi pembeli moderat minyak Brent ketika harga bergerak di atas US$93 per barel. Namun, volatilitas yang tinggi masih menjadi hambatan utama bagi masuknya posisi beli yang lebih agresif.
Militer Amerika Serikat telah melakukan serangan hari ke-11 berturut-turut terhadap Iran. Serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz, meski US Central Command menyatakan jalur tersebut masih terbuka.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa dampak sebenarnya terhadap pasokan minyak global mungkin baru terlihat dalam beberapa bulan ke depan. Bernstein memperkirakan Brent bisa menembus US$100 per barel sebelum akhir tahun jika konflik Timur Tengah berlarut dan stok komersial OECD terus menurun.
Dampaknya ke market, harga minyak masih berpeluang bertahan tinggi karena premi geopolitik semakin kuat. Struktur backwardation Brent dan WTI yang melebar lebih dari US$3 per barel menunjukkan pasar mulai melihat pasokan jangka pendek semakin ketat. Jika gangguan pasokan berlanjut, tekanan inflasi bisa meningkat, dolar AS berpotensi tetap kuat, dan aset berisiko seperti saham dapat kembali tertekan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id