Emas Turun dari Puncak Dua Pekan saat Dolar Menguat dan Pasar Tunggu Data AS
Harga emas (XAU/USD) melemah pada awal sesi Asia Senin (01/05), bergerak menjauh dari puncak dua pekan di sekitar $4.515 yang sempat tersentuh pada Jumat. Pelemahan ini terjadi ketika dolar AS kembali menguat, sehingga tekanan pada emas meningkat.
Penguatan dolar terutama datang dari dua hal, antara lain; permintaan aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi The Fed yang masih cenderung hawkish. Kedua hal ini biasanya membuat emas kurang menarik karena emas tidak memberikan imbal hasil, sementara dolar dan aset berbasis yield lebih diuntungkan.
Meski turun, emas masih bertahan di atas $4.500. Pasar terlihat menahan diri karena menunggu kejelasan arah diplomasi AS–Iran, yang sejauh ini masih penuh ketidakpastian dan belum menunjukkan hasil yang tegas.
Dari pihak Iran, Menlu Abbas Araqchi menyebut komunikasi dan pembicaraan masih berjalan, namun ia mengingatkan agar pasar tidak bereaksi berlebihan terhadap laporan yang belum terkonfirmasi. Di sisi lain, ada sinyal posisi negosiasi mengeras, dengan isu sensitif seperti program nuklir Iran, Selat Hormuz, dan uranium yang diperkaya tetap menjadi ganjalan.
Ketegangan di kawasan juga belum mereda. Laporan Reuters menyebut Israel memperluas operasi darat di Lebanon, yang menjaga “premi risiko” geopolitik tetap ada. Pada saat yang sama, pemulihan harga minyak dari titik terendah lebih dari sebulan ikut memunculkan kembali kekhawatiran inflasi, yang dapat memperkuat taruhan suku bunga The Fed dan mendukung dolar.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada ISM Manufacturing PMI AS (Senin) dan terutama Nonfarm Payrolls (NFP) (Jumat). Dua rilis ini berpotensi mengubah ekspektasi suku bunga, menggerakkan yield dan dolar, lalu menentukan apakah tekanan pada emas berlanjut atau mereda—di tengah risiko headline Timur Tengah yang sewaktu-waktu bisa memicu volatilitas.
Berikut 5 inti poin:
- Emas turun dari area puncak dua pekan sekitar $4.515 saat dolar menguat.
- Risiko geopolitik mengangkat permintaan USD sebagai safe haven, membatasi emas.
- Progres pembicaraan AS–Iran belum jelas; Selat Hormuz dan uranium tetap jadi isu kunci.
- Eskalasi Israel di Lebanon menjaga premi risiko geopolitik.
- Data AS (ISM dan NFP) menjadi pemicu utama untuk arah dolar, yield, dan emas. (asd)
Sumber: Newsmaker.id