Emas Melemah, Progres Damai AS-Iran Dinilai Lambat
Harga emas turun tipis pada Senin ketika pelaku pasar menilai negosiasi perpanjangan gencatan senjata AS–Iran berjalan lambat, setelah optimisme pada Jumat sempat mendorong penguatan sekitar 1%. Bullion turun hingga 0,5% ke bawah US$4.520 per troy ounce, sebelum diperdagangkan sekitar US$4.524 pada pukul 10:45 waktu Singapura.
Perubahan sentimen dipicu perkembangan akhir pekan, ketika AS dan Iran saling bertukar pesan untuk mengusulkan perubahan pada draf kesepakatan, namun belum ada kejelasan apakah pembicaraan mendekati terobosan. Di saat yang sama, eskalasi di kawasan berlanjut setelah Israel melakukan operasi paling luas di Lebanon dalam seperempat abad, sementara Hezbollah meningkatkan serangan ke wilayah Israel utara.
Di pasar lintas aset, minyak menguat dari level terendah enam pekan karena harapan damai dinilai memudar dalam jangka pendek. Dolar AS juga naik, membuat emas yang berdenominasi dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli di luar AS, sehingga menambah tekanan pada harga bullion.
Secara fundamental, pasar menilai pembukaan kembali arus energi dan perdagangan melalui Selat Hormuz berpotensi meredakan kekhawatiran inflasi global. Jika risiko inflasi turun, peluang pelonggaran kebijakan moneter akan lebih terbuka, dan suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi faktor pendukung bagi emas karena instrumen ini tidak memberikan imbal hasil.
Namun narasi emas saat ini dinilai berada dalam “tarik-menarik” antara dua kekuatan: permintaan safe haven yang tetap hidup karena ketidakpastian perang, dan tekanan dari real yield serta dolar yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed. Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, juga menyatakan pada Jumat bahwa masih terlalu dini untuk menilai dampak inflasi dari perang Iran dan pembuat kebijakan perlu melihat melewati guncangan harga yang bersifat sementara.
Emas disebut cenderung bergerak dalam kisaran sempit sampai “kabut” geopolitik menipis atau justru menebal. Variabel yang dipantau pasar mencakup arah negosiasi AS–Iran dan status Hormuz, eskalasi Israel–Hezbollah, pergerakan dolar dan real yield AS, serta sinyal inflasi yang dapat mengubah pembacaan kebijakan moneter.(asd)
Sumber: Newsmaker.id