Emas Pangkas Kenaikan, Sinyal Gencatan AS–Iran Masih Campuran
Harga emas memangkas kenaikan setelah pasar mencerna sinyal yang saling bertentangan soal peluang gencatan senjata AS–Iran, yang kembali mengaburkan arah suku bunga—faktor utama yang belakangan menggerakkan logam mulia. Dorongan awal emas mereda ketika imbal hasil obligasi AS dan dolar mulai memangkas pelemahan, menambah beban bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil dan dihargai dalam greenback.
Bullion sempat menguat hingga 2,2% setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan membuat “keputusan final” terkait kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Namun laporan menyebut Trump meninggalkan pertemuan dua jam tanpa keputusan, membuat pasar kembali ragu apakah terobosan benar-benar dekat.
Pesan yang tidak konsisten dari Gedung Putih menambah ketidakpastian, sekaligus menegaskan sulitnya Washington mencari jalan keluar dari konflik yang telah berjalan tiga bulan. Emas sendiri cenderung bergerak dalam rentang relatif sempit sejak penurunan awal perang Iran, seiring pelaku pasar terus menimbang kemajuan diplomasi versus risiko eskalasi. Secara kumulatif, emas masih turun sekitar 14% sejak akhir Februari.
UBS menilai periode kenaikan yield atau volatilitas pasar obligasi kerap bertepatan dengan pelemahan emas dalam jangka pendek. UBS juga menyoroti volatilitas di pasar logam mulia dapat lebih terlihat pada “mekanisme pasar” ketimbang harga spot, misalnya melalui perbedaan harga antarwilayah atau antarjatuh tempo pengiriman, ketika ketersediaan fisik, lokasi, dan timing makin menentukan harga.
Pada 15:52 waktu New York, emas spot tercatat naik 1% ke US$4.546,37 per ounce. Perak relatif stabil, platinum naik, sementara palladium melemah.(yds)
Sumber: Bloomberg.com