Deal Iran Seret, Emas Loyo
Emas masih melemah dan menahan penurunan dua hari terakhir, seiring mandeknya pembicaraan damai AS–Iran yang menjaga kekhawatiran inflasi tetap tinggi. Bullion bergerak di sekitar US$4.450 per troy ounce setelah turun total 2,6% dalam dua sesi sebelumnya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan ia “tidak puas” dengan negosiasi bersama Iran, meredam harapan pasar akan terobosan cepat. Pernyataan ini memperkuat persepsi bahwa jalan menuju kesepakatan masih panjang, meski pelaku pasar terus memantau perubahan headline.
Salah satu titik sengketa utama tetap pada Selat Hormuz. Trump tidak menjelaskan langkah konkret yang akan diambil AS untuk memastikan kapal bisa melintas bebas di jalur tersebut. Hampir tertutupnya Hormuz sejak akhir Februari mendorong lonjakan harga produk energi yang ikut mengguncang ekonomi global.
Kenaikan energi berarti risiko inflasi belum hilang. Bahkan jika kesepakatan damai akhirnya tercapai, harga energi yang sudah terlanjur tinggi berpotensi membuat inflasi bertahan, sehingga bank sentral cenderung menahan suku bunga di level tinggi lebih lama. Lingkungan suku bunga tinggi biasanya tidak ramah bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Tekanan itu diperkuat komentar pejabat The Fed. Gubernur Federal Reserve Lisa Cook mengatakan inflasi bergerak ke arah yang salah dan ia siap mendukung kenaikan suku bunga jika kondisi itu berlanjut. Pesan ini menambah alasan pasar untuk menjaga pricing kebijakan tetap ketat.
Pada perdagangan Asia, emas spot turun 0,1% ke US$4.450,91 per ounce pada 07:22 di Singapura. Perak stabil di US$74,60, sementara platinum dan palladium bergerak tipis. Indeks dolar Bloomberg terakhir naik 0,1% pada sesi sebelumnya, ikut membatasi ruang pemulihan logam mulia.(ayu)*
Sumber: Newsmaker.id