Minyak Naik Tipis, Kesepakatan AS–Iran Belum Terlihat dan Pasokan Ketat
Harga minyak menguat terbatas pada Senin (4/5), yang ditopang belum adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuat pasokan tetap terkendala dan harga bertahan di atas level psikologis US$100 per barel. Brent naik 0,6% ke US$108,84 per barel, sementara WTI naik 0,6% ke US$102,59 per barel, setelah keduanya terkoreksi pada penutupan Jumat.
Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai pasar masih ditopang ketatnya kondisi pasokan akibat gangguan distribusi dan ketidakpastian geopolitik. Menurutnya, tanpa resolusi yang jelas dan berkelanjutan yang memulihkan arus normal melalui Selat Hormuz, harga minyak cenderung tetap tinggi, dengan risiko masih condong ke arah kenaikan.
Sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan mulai melakukan upaya membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Namun, pelaku pasar masih melihat jalur pelayaran di perairan strategis tersebut tetap terbatas, sementara kesepakatan damai belum juga tercapai, sehingga premi risiko pasokan belum sepenuhnya hilang dari harga.
Negosiasi AS–Iran berlanjut sepanjang akhir pekan, dengan kedua pihak menilai respons satu sama lain. Trump menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas, tetapi Iran disebut ingin menunda pembahasan nuklir hingga perang berakhir dan menuntut pencabutan blokade yang menghambat pelayaran di kawasan Teluk sebagai langkah awal.
Di sisi pasokan, OPEC+ pada Minggu menyatakan akan menaikkan target produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari pada Juni untuk tujuh negara anggota, menjadi kenaikan bulanan ketiga berturut-turut. Meski demikian, pasar tetap menilai faktor penentu jangka pendek masih berada pada normalisasi arus Hormuz dan kepastian jalur diplomasi AS–Iran.(yds)
Sumber: newsmaker.id