Emas Turun setelah Trump Kirim Sinyal Bervariasi soal Akhir Perang Iran
Harga emas melemah setelah pidato Presiden AS Donald Trump yang dinanti pasar tidak memberikan kejelasan yang tegas mengenai penyelesaian perang di Timur Tengah. Perak juga turun tajam.
Emas spot sempat merosot hingga 4,3% dan memutus reli empat hari, setelah Trump mengatakan dalam pidato kepada publik pada Rabu bahwa konflik yang telah berlangsung lima pekan “mendekati penyelesaian,” namun aliansi AS-Israel akan menghantam Iran “sangat keras” dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Di sisi lain, Iran pada Kamis melanjutkan serangan di kawasan Teluk Persia dan menunjukkan minimnya minat untuk memulai pembicaraan.
Aset berisiko ikut tertekan: saham turun, indeks dolar AS menguat hingga 0,5%, sementara harga minyak melonjak di tengah kekhawatiran atas kelancaran arus energi melalui Selat Hormuz. Jalur ini biasanya menjadi lintasan sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG dunia. Pergerakan lintas aset tersebut melanjutkan pola yang muncul selama konflik, di mana daya tarik emas sebagai aset lindung nilai meredup ketika investor perlu melikuidasi posisi untuk menutup kerugian di aset lain.
Pidato Trump “pada dasarnya membingkai konflik sebagai kisah sukses militer, bukan pengumuman gencatan senjata,” kata Christopher Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp. Ia menilai meski emas sebelumnya sempat naik mendekati US$4.800 per ounce, momentum bisa melambat karena selera risiko berpotensi tertekan oleh kekhawatiran operasi darat AS di Iran.
Kerugian emas sempat menyusut pada Kamis pagi waktu AS setelah muncul laporan bahwa Iran sedang menyusun protokol bersama Oman untuk memantau lalu lintas di Selat Hormuz.
Sebelumnya, setelah Trump menyebut AS bisa meninggalkan Iran dalam jangka dua hingga tiga pekan, sebagian pelaku pasar berspekulasi The Fed mungkin perlu memangkas suku bunga untuk meredam risiko pelemahan ekonomi yang lebih berkepanjangan. Pasar juga akan tutup untuk libur Good Friday, dan dorongan untuk menekan risiko menjelang akhir pekan panjang diperkirakan akan mendominasi aktivitas perdagangan, menurut Wong.
Emas juga masih dibayangi tekanan dari sisi makro: penurunan hampir 12% pada Maret menjadi kinerja bulanan terburuk sejak Oktober 2008, ketika risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak mengurangi peluang penurunan biaya pinjaman, sehingga kembali mengalahkan fungsi tradisional emas sebagai aset safe haven.
Pada 12:06 p.m. di New York, emas spot turun 2,0% menjadi US$4.662,71 per ounce. Perak merosot 3,9% ke US$72,15, sementara platinum dan paladium naik. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,2%.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id