Dolar Menguat Tajam usai Trump Janji Tambah Serangan ke Iran
Dolar AS melonjak pada Kamis (2/4) pasca pidato Presiden AS Donald Trump soal Iran memupus harapan berakhirnya konflik dalam waktu cepat. Pernyataan Trump mendorong arus ke aset safe haven ketika harga minyak naik dan pasar saham terkoreksi, memperkuat permintaan terhadap greenback.
Dalam pidato televisi, Trump berjanji akan melancarkan serangan yang lebih agresif ke Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, tanpa memberikan jadwal konkret pembukaan Selat Hormuz atau rencana jelas mengakhiri perang yang telah mengguncang pasar. Militer Iran merespons dengan memperingatkan AS dan Israel akan menghadapi serangan yang “lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif.”
Di pasar valas, investor cepat melepas aset berisiko dan beralih ke dolar, menekan yen, euro, dan pound. Indeks dolar (DXY) naik 0,68% ke 100,24, menandai potensi kenaikan harian terbaik sejak 18 Maret serta menghapus sebagian besar pelemahan dua hari sebelumnya ketika sempat muncul optimisme de-eskalasi.
Tekanan pada mata uang non-dolar berlanjut seiring harga minyak menguat pada perdagangan Eropa. Euro turun 0,66% ke US$1,1513 dan pound melemah 0,88% ke US$1,319. Dolar Australia, yang sensitif terhadap sentimen pertumbuhan global, turun 0,95% ke US$0,6863.
Yen Jepang melemah 0,6% ke 159,72 per dolar, mendekati level psikologis 160 yang kerap dipandang sebagai titik sensitif bagi potensi intervensi otoritas Jepang. Di pasar komoditas, Brent naik hampir 8% ke sekitar US$109,10 per barel, mencerminkan kekhawatiran gangguan pasokan yang lebih lama.
Di pasar obligasi, komentar Trump turut mendorong imbal hasil US Treasury naik karena pasar menilai kenaikan harga minyak dapat mengangkat inflasi dan memperkecil ruang bagi pemangkasan suku bunga. Kombinasi risk-off, minyak yang mahal, dan yield yang naik menjadi faktor utama yang menjaga dolar tetap kuat dalam jangka pendek.(yds)
Sumber: Newsmaker.id