Emas Rontok, Likuidasi Paksa Perparah Aksi Jual
Harga emas turun tajam pada Senin (23/3) dan menghapus seluruh kenaikan sepanjang tahun ini, ketika perang di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Kondisi tersebut menekan daya tarik emas sebagai aset non-yielding, karena biaya peluang memegang emas meningkat saat pasar memproyeksikan kebijakan moneter tetap ketat.
Pada perdagangan Eropa, kontrak berjangka emas New York turun sekitar 6,1% ke $4.298,50 per troy ounce, setelah sempat menyentuh $4.100 lebih awal pada sesi tersebut. Pelemahan juga menyeret logam mulia lain: kontrak berjangka perak turun 7,1% ke $64,61 per ounce, sementara platinum merosot 9% ke $1.791,80 per ounce.
Meski ketegangan geopolitik biasanya meningkatkan permintaan aset safe haven, pasar kali ini lebih fokus pada efek inflasi dari kenaikan biaya energi yang menekan emas. Brent—patokan minyak global—masih bertahan di atas $100 per barel, meningkatkan risiko inflasi bertahan dan memperpanjang perjuangan The Fed dalam menurunkan tekanan harga. Di saat yang sama, dolar AS yang lebih kuat membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, menambah tekanan pada bullion.
Aksi jual emas juga diperparah oleh likuidasi paksa, ketika investor menjual aset untuk menutup kerugian di pasar ekuitas dan komoditas yang volatil. Tekanan likuiditas ini sering membuat emas—meski dikenal defensif—ikut dijual karena dianggap cepat “menguangkan” posisi.
Meski penurunan tajam, indikator teknikal mulai mengarah pada kondisi oversold. “Pola historis menunjukkan penurunan seperti ini saat terjadi guncangan makro sering diikuti rebound yang berkelanjutan, dengan positioning spekulatif sudah mulai meningkat mengantisipasi pemulihan,” kata Soojin Kim, analis di MUFG.
Inti Newsmaker: emas sedang kalah oleh kombinasi oil shock, dolar kuat, dan repricing suku bunga. Namun jika tekanan likuidasi mereda dan pasar mulai menilai inflasi energi tidak mengubah jalur kebijakan secara permanen, ruang rebound bisa terbuka—meski volatilitas masih berpotensi tinggi.(yds)
Sumber: Newsmaker.id