Emas Menuju Pekan Terburuk Dalam 4 Dekade
Harga emas mengarah pada penurunan mingguan terbesar sejak 1983, seiring perang di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi dan mengikis ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga.
Pelemahan bullion kian dalam ketika dolar AS dan imbal hasil obligasi menguat, setelah CBS melaporkan AS tengah menyiapkan opsi pengerahan pasukan darat ke Iran. Pelaku pasar meningkatkan spekulasi bahwa peluang kenaikan suku bunga mencapai 50% pada Oktober, didorong kekhawatiran konflik berkepanjangan dapat memanaskan inflasi. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menekan emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Di sisi geopolitik, seorang sumber yang terlibat dalam kontak tingkat tinggi dengan Teheran mengatakan pejabat Iran menjadi enggan membahas kembali pembukaan Selat Hormuz karena fokus pada upaya bertahan dari serangan. The Wall Street Journal juga melaporkan Pentagon mengirim tiga kapal perang dan ribuan tambahan personel Marinir ke Timur Tengah.
Emas, yang luas dipandang sebagai aset lindung nilai, tercatat turun setiap pekan sejak AS dan Israel menyerang Iran bulan lalu. Namun, penurunan terbaru terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS, sementara investor melepas saham dan obligasi di tengah kekhawatiran dampak lanjutan biaya energi yang tinggi terhadap inflasi dan pertumbuhan global.
Menurut analis StoneX Financial Rhona O’Connell, koreksi emas mencerminkan kombinasi aksi ambil untung dan likuidasi posisi saat pasar menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih sempit. Ia menilai harga yang sempat menembus di atas US$5.200 per ons menarik banyak pembeli, membuat pasar rentan terhadap koreksi. Ketika harga mulai turun, banyak investor tersentuh level stop-loss sehingga penjualan meningkat cepat. Sinyal teknikal, terutama pergerakan rata-rata (moving averages), turut menambah tekanan.
O’Connell juga menyebut penjualan paksa terkait aksi jual besar di pasar saham dapat ikut memperburuk pelemahan emas. Selain itu, pembelian bank sentral yang melambat serta arus keluar dari ETF turut membebani sentimen.
ETF berbasis emas diperkirakan mencatat arus keluar untuk pekan ketiga berturut-turut, dengan kepemilikan turun lebih dari 60 ton dalam periode tersebut, berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg.
Meski terkoreksi, emas masih naik sekitar 4% sepanjang tahun berjalan. Harga sempat menyentuh rekor di bawah US$5.600 per ons pada akhir Januari, ditopang antusiasme investor, pembelian bank sentral, serta kekhawatiran terhadap potensi ancaman atas independensi The Fed yang dikaitkan dengan Presiden Donald Trump.
Pada pukul 15.03 waktu New York, emas turun 3,1% ke US$4.508,96 per ons, mengarah pada rentetan penurunan delapan sesi—terpanjang sejak Oktober 2023. Penurunan tersebut menyeret indeks kekuatan relatif (RSI) 14 hari di bawah 30, level yang oleh sebagian pelaku pasar dipandang sebagai kondisi jenuh jual.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id