Risk-On Tekan Emas, Tapi Iran–Hormuz Jadi Penahan
Emas anjlok di sesi perdagangan yang sepi pada Senin (16/2), terseret kombinasi likuiditas tipis (AS libur Presidents’ Day, China tutup karena Imlek) dan dolar yang menguat. Pada update terbaru, XAU/USD ada di $4.990,83 (-1,04%), setelah sebelumnya sempat menguji area atas di $5.043,11 sebelum kehilangan tenaga.
Di balik pelemahan itu, sentimen pasar sebenarnya masih cenderung positif: ekspektasi cut rate tahun ini belum hilang, tapi belum cukup kuat buat bikin emas “dikejar” saat volume tipis. Yang jadi rem: DXY menguat ke sekitar 97,07 (+0,16% dalam 24 jam), bikin emas terasa lebih mahal untuk pembeli non-dolar—dan di market sepi, efeknya kelihatan lebih brutal.
Dari sisi obligasi, yield AS juga sempat turun tajam akhir pekan lalu—yield Treasury 10Y turun ke 4,05% pada 13 Februari—mencerminkan pasar masih mengantisipasi pelonggaran, meski timing-nya diperdebatkan. Reuters mencatat komentar Austan Goolsbee (Chicago Fed) tetap hati-hati: rate bisa turun, tapi inflasi jasa masih jadi perhatian—makanya pasar tetap menahan diri jelang sinyal yang lebih “tegas”.
Sementara itu, geopolitik masih jadi "kartu As" yang bisa sewaktu-waktu ngangkat demand safe-haven: Menlu Iran Abbas Araghchi sudah di Jenewa jelang putaran kedua pembicaraan nuklir, dan Garda Revolusi Iran juga menggelar latihan laut di Selat Hormuz menjelang negosiasi. Kombinasi headline seperti ini sering jadi “rem” saat emas mau jatuh lebih dalam—apalagi minggu ini pasar menunggu FOMC minutes (Rabu) dan data AS berikutnya sebagai penentu arah. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id