Emas & Perak Turun Tipis, Outlook The Fed Jadi Penentu
Harga emas melemah tipis pada Senin (16/2), sementara perak ikut mundur, ketika pasar masih “membaca ulang” arah suku bunga AS pasca rilis data inflasi terbaru.
Pada 04:25 waktu timur AS (09:25 GMT), emas spot turun 0,6% ke $5.015,40/oz, sedangkan kontrak berjangka emas April turun 0,2% ke $5.035,25/oz. Perak spot terkoreksi 0,9% ke $77,230/oz, sementara platinum turun 1% ke $2.057,10/oz.
Pergerakan logam mulia tetap volatil setelah dua pekan terakhir diwarnai ayunan harga yang ekstrem—dan emas maupun perak masih bertahan jauh di bawah puncak akhir Januari. Aktivitas transaksi juga cenderung sepi karena bursa China, Korea Selatan, dan AS tutup, membuat likuiditas menipis dan pergerakan harga lebih “mudah tersentak”.
Pekan lalu, emas dan perak sempat mendapat dukungan dari aksi beli saat harga turun (dip-buying) dan pelemahan dolar, ditambah permintaan safe haven yang muncul dari memanasnya tensi AS–Iran.
Namun ketidakpastian soal jalur suku bunga The Fed masih membayangi, menjaga pasar dalam mode “wait and see”. Tekanan pada emas sejak akhir Januari juga dipicu sentimen pergantian kepemimpinan The Fed, setelah Presiden Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua The Fed berikutnya saat masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei. Warsh dipandang pasar lebih “kurang dovish”, memunculkan kekhawatiran pelonggaran moneter tidak akan seagresif yang sebelumnya diharapkan.
ANZ menilai fokus pasar mulai bergeser ke dampak tarif yang belum sepenuhnya tercermin dalam data ekonomi dan inflasi, ditambah keraguan soal kredibilitas kebijakan ke depan—kombinasi yang dapat meningkatkan minat investor pada aset riil seperti emas. Meski begitu, arah jangka pendek masih sangat dipengaruhi data dan sinyal kebijakan.
Pekan ini, sorotan utama tertuju pada risalah rapat FOMC bulan Januari yang rilis Rabu, yang diperkirakan memberi petunjuk lebih jelas soal rencana suku bunga—terutama di tengah kecemasan investor terkait transisi kepemimpinan bank sentral.
Setelah itu, pasar akan memantau data PCE Price Index Desember, indikator inflasi favorit The Fed, yang berpotensi menjadi penentu penting dalam pembentukan ekspektasi kebijakan suku bunga jangka menengah. Data perdagangan AS dan produksi industri juga masuk agenda dan bisa menambah volatilitas di pasar logam.(yds)
Sumber: Newsmaker.id