• Tue, May 19, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

19 May 2026 18:42  |

Komentar Warsh Soal Peran Global The Fed Guncang Kekhawatiran Stabilitas

Bank-bank sentral global mulai memasang tanda tanya terhadap peran Federal Reserve sebagai “penopang terakhir” dolar di masa krisis, setelah calon ketua The Fed Kevin Warsh memberi sinyal bahwa independensi bank sentral tidak sepenuhnya mencakup operasi penanganan krisis di luar kebijakan suku bunga. Kekhawatiran utamanya: jika jejak global The Fed dipersempit, stabilitas pasar bisa lebih mudah terguncang ketika tekanan likuiditas dolar muncul.

Selama ini, dominasi dolar membuat The Fed memegang peran kunci saat gejolak, termasuk melalui fasilitas likuiditas yang menjaga pendanaan tetap mengalir. Warsh—pilihan Presiden AS Donald Trump—mengatakan dalam sidang konfirmasi bahwa independensi dalam menetapkan suku bunga tidak otomatis berlaku untuk operasi yang lebih luas, termasuk aspek keuangan internasional, yang menurutnya perlu dikoordinasikan lebih dekat dengan pemerintah dan Kongres.

Warsh diperkirakan segera dilantik, meski belum ada tanggal resmi. Dewan The Fed menunjuk Jerome Powell sebagai chair pro tempore hingga Warsh resmi menjabat. Sejumlah pembuat kebijakan bank sentral lain—baik on the record maupun off the record—menyebut mereka menunggu klarifikasi, namun tidak mengantisipasi perubahan besar dalam waktu dekat karena fasilitas likuiditas The Fed juga melindungi ekonomi AS, bukan hanya mitra global.

Namun, mereka mengingatkan bahwa sekadar munculnya keraguan soal ketersediaan dolar sudah cukup memicu turbulensi. Seorang pejabat ECB menyebut situasinya “bermata dua”: dunia bergantung pada dolar, dan jika dolar tidak mudah diakses, biayanya akan ditanggung semua pihak—termasuk AS. Di sisi lain, The Fed saat ini menyediakan dolar “on demand” melalui standing tools kepada ECB serta bank sentral Kanada, Jepang, Inggris, dan Swiss (dengan jaminan), sementara bank sentral lain bisa mengakses dolar lewat fasilitas yang lebih berat.

Alasan keberadaan backstop itu juga terkait kepentingan AS sendiri: bank komersial di luar negeri memegang triliunan dolar obligasi Treasury. Saat pasar stres, kebutuhan likuiditas bisa memaksa penjualan cepat aset-aset tersebut dan mengekspor guncangan kembali ke pasar AS. Narasi politisasi akses dolar pun bukan hal baru—pemerintahan Trump pernah memberi jalur likuiditas US$20 miliar ke Argentina menjelang pemilu, sementara negara Teluk dan Asia belakangan meminta dukungan likuiditas terkait guncangan energi dan dampak perang Iran; isu serupa juga disebut sempat disinggung Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dalam pertemuan dengan Menkeu AS Scott Bessent.

Ekonom Nomura Research Institute Takahide Kiuchi menilai Warsh berpotensi berada di “jalur sempit” antara kebijakan suku bunga yang lebih dovish sesuai harapan Trump, dan kebijakan neraca yang lebih hawkish. Ia memperingatkan, jika kombinasi itu memicu gangguan di pasar AS saat harga minyak masih tinggi akibat perang Iran, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun bisa terdorong naik dan menekan ekonomi serta saham Jepang.

Sebagian sumber menilai penurunan keandalan The Fed bisa mengalihkan sebagian permintaan pasar ke euro, tetapi arsitektur euro dinilai belum siap mengambil peran jauh lebih besar tanpa reformasi internal besar. Pada akhirnya, para pejabat sepakat bahwa rencana kontinjensi hanya membantu di pinggiran—dalam krisis, The Fed tetap pemberi pinjaman dolar terakhir, apalagi pasar eurodollar disebut mencapai US$30 triliun. Karena itu, banyak pihak juga meragukan Warsh akan melakukan perubahan radikal: ia veteran The Fed dan krisis 2008, sehingga dinilai memahami risiko stabilitas jika swap lines dipangkas, sementara ketua Fed sendiri hanya memiliki satu suara dalam komite. (arl)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

FISCAL

Bessent Sentil BOJ: Tertinggal Hadapi Inflasi

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Bank of Japan tertinggal dalam menangani inflasi, dalam sebuah komentar langka y...

14 August 2025 08:26
FISCAL

Pejabat BOJ Beri Sinyal Jeda dalam Kenaikan Suku Bunga untuk...

Gubernur Kazuo Ueda dan seorang kolega memberi sinyal bahwa Bank Jepang akan berhenti sejenak dalam mempertimbangkan kenaikan...

17 April 2025 15:20
FISCAL

BOJ Naikkan Suku Bunga, Tapi Ueda Kasih Sinyal Apa?

Dalam konferensi pers BOJ hari ini (19 Desember 2025), Gubernur Kazuo Ueda menegaskan BOJ menaikkan suku bunga 25 bps menjadi...

19 December 2025 14:38
FISCAL

Bowman Bicara: Fed Mau “Rapihin” Aturan Bank

Event “FOMC Member Bowman Speaks” tidak menghasilkan angka seperti data ekonomi (Actual/Forecast biasanya NA). Karena ini...

8 January 2026 08:22
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai