Warsh Masuk The Fed, Reform Besar Hadapi Batas Politik dan Data
Kevin Warsh diperkirakan kembali memimpin Federal Reserve bulan ini, 15 tahun setelah keluar dari bank sentral karena menentang program pembelian obligasi besar yang kini meninggalkan portofolio sekitar US$6,7 triliun. Namun agenda reformasinya yang luas dinilai tidak mudah diterjemahkan menjadi perubahan cepat, terutama karena menyentuh aspek teknis, komunikasi, dan relasi The Fed dengan pasar.
Warsh mengkritik berbagai hal, dari cara The Fed memantau inflasi, kecenderungan “menyelamatkan” pasar, hingga strategi komunikasi. Perubahan yang paling mungkin dilakukan lebih cepat adalah penyesuaian gaya komunikasi, termasuk mengurangi intensitas konferensi pers dan menggeser kembali The Fed ke pendekatan yang lebih tertahan dibanding era pasca-krisis 2007–2009 yang sarat “forward guidance.”
Proses pengangkatan Warsh berlangsung saat independensi The Fed kembali diuji oleh tekanan politik. Presiden Donald Trump—yang berulang kali berselisih dengan Ketua The Fed Jerome Powell—mendorong pemangkasan suku bunga, memperluas tekanannya lewat upaya memecat Gubernur Fed Lisa Cook (kasus masih di Mahkamah Agung) dan dukungan terhadap penyelidikan Departemen Kehakiman terkait renovasi gedung yang oleh banyak pihak dipandang sebagai serangan terhadap independensi bank sentral. Penyelidikan DOJ sudah ditutup, sementara Powell berencana tetap menjadi gubernur setelah masa jabatan ketua berakhir Jumat ini, sebagian untuk meredam risiko serangan hukum lanjutan.
Tantangan paling dekat Warsh adalah menavigasi permintaan pemangkasan suku bunga di tengah data yang belum memberi ruang. Pengangguran masih relatif rendah di 4,3%, sementara inflasi tetap jauh di atas target 2% dan cenderung bergerak naik. Saat memimpin rapat kebijakan pertamanya pada Juni, menjaga agar komite tidak bergeser ke bahasa yang membuka peluang kenaikan suku bunga bisa menjadi “kemenangan awal” tersendiri, setelah pada rapat 28–29 April ada tiga pembuat kebijakan yang mendesak arah bahasa yang lebih hawkish.
Warsh sendiri menyampaikan sejumlah argumen mengapa suku bunga masih bisa turun meski data saat ini ketat: produktivitas dari AI dapat menekan biaya, penyusutan kepemilikan obligasi tenor panjang bisa menjadi dasar suku bunga kebijakan lebih rendah, dan ukuran inflasi alternatif dinilai menunjukkan laju harga lebih lambat daripada yang kini ditekankan. Namun, membangun riset yang meyakinkan dan meraih dukungan rekan pembuat kebijakan diperkirakan memerlukan waktu, jika memang bisa tercapai.
Langkah awal yang dianggap paling realistis adalah menginisiasi tinjauan internal, memicu debat di FOMC, lalu berpotensi mengubah aturan teknis seperti cadangan perbankan sebagai salah satu jalur menuju neraca yang lebih kecil. Warsh juga mengisyaratkan ingin mengubah perangkat komunikasi seperti Summary of Economic Projections dan “dot plot,” area yang memang sudah lama menuai ketidakpuasan, meski perangkat itu dan konferensi pers telah menjadi alat penting pembentukan ekspektasi publik.
Sejumlah pandangan tandingan juga sudah menguat. Ada skeptisisme atas gagasan bahwa neraca lebih kecil otomatis membuka ruang pemangkasan suku bunga, dan perdebatan soal AI lebih menekankan timing serta risiko: apakah produktivitas menurunkan inflasi lebih cepat, atau justru ekspektasi keuntungan mendorong belanja lebih awal dan menambah tekanan harga—skenario yang sempat disoroti Austan Goolsbee. Pasar kini akan memantau pemungutan suara Senat, sinyal Warsh terkait komunikasi dan neraca, serta bagaimana rapat Juni membingkai risiko inflasi versus tekanan politik pada jalur suku bunga.(arl)
Sumber: Newsmaker.id