Tekanan Maksimum Trump, Gencatan Gaza Terjadi
Seorang pejabat senior Gedung Putih menyebut Presiden Donald Trump memakai “tekanan maksimum” terhadap Israel selama sebulan terakhir untuk mendorong gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera dengan Hamas, mengakhiri perang Gaza yang berjalan dua tahun. Tanpa mengancam terbuka soal pemutusan pasokan senjata, Trump memanfaatkan ketergantungan Israel pada dukungan AS—terutama setelah serangan Israel di Doha pada September yang memicu kemarahan Washington dan mitra Arab.
Trump mengatakan akan segera ke Timur Tengah untuk “merayakan” pendekatan kerasnya. Hubungan pribadinya dengan para pemimpin Arab dipadukan dengan tekanan langsung ke Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menciptakan momen diplomasi multilateral yang jarang. Banyak pejabat kawasan memberi kredit pada dorongan Trump, meski memperingatkan masa depan politik Gaza masih rumit.
Dorongan makin kuat setelah serangan di Doha pada 9 September dan pertemuan di sela Sidang Umum PBB pada 23 September, ketika Trump menolak tegas rencana pencaplokan Tepi Barat. Putaran final digelar pekan ini di Sharm el-Sheikh dalam sesi maraton sekitar 20 jam dengan utusan Steve Witkoff, Jared Kushner, dan pejabat Arab. Titik baliknya: kesepakatan dipecah dua fase, dengan fase pertama meliputi gencatan senjata, penarikan sebagian pasukan Israel, dan pembebasan sandera serta tahanan Palestina.
Untuk menjaga kepercayaan, AS akan membentuk satuan tugas gabungan di Israel—dipimpin Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper—beranggotakan personel dari AS, Qatar, Mesir, Turki, dan kemungkinan UEA, guna mengawasi implementasi dan mencegah pelanggaran. Namun isu jangka panjang tetap sulit: perlucutan senjata Hamas, tata kelola Gaza (termasuk peran Otoritas Palestina), penarikan penuh Israel, dan rekonstruksi wilayah yang hancur—sebagian sebelumnya ditolak Netanyahu.
Secara politik, konteks saat ini berbeda dari upaya Joe Biden tahun lalu: tekanan domestik dan internasional ke Israel meningkat, sementara pembebasan sandera memberi Netanyahu modal politik jelang pemilu. Bagi Trump, gaya “hardball” dan koordinasi dengan mitra regional sejalan dengan target lebih luas—dari realignment kawasan hingga perluasan Abraham Accords. Pertanyaan besarnya: apakah Trump akan mengawal fase lanjutan, atau “deklarasi kemenangan” lalu mundur, yang bisa menggagalkan tahap berikutnya.
Inti poin:
- Trump gunakan tekanan maksimum ke Israel, lahir gencatan senjata + kesepakatan sandera.
- Negosiasi dua fase: fase 1 (gencatan, penarikan sebagian, tukar sandera–tahanan).
- Task force gabungan dipimpin AS untuk mengawasi implementasi di lapangan.
- Isu jangka panjang (disarmament, tata kelola, penarikan penuh, rekonstruksi) masih belum tuntas.
- Ke depan, kunci sukses: komitmen politik berkelanjutan dari semua pihak—bukan sekadar terobosan awal.(asd)
Sumber: Newsmaker.id