Sanksi atau Senjata? Trump Siapkan Tekanan Ganda untuk Akhiri Perang Ukraina
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman baru terhadap Rusia dengan mengatakan bahwa jika tidak ada kesepakatan damai dalam 50 hari ke depan, ia akan mengenakan tarif hingga 100% terhadap Moskow. Pernyataan ini ia sampaikan dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih pada hari Senin. Tarif tersebut disebut sebagai “tarif sekunder”, yang berarti bisa dikenakan juga kepada negara-negara lain yang masih berdagang dengan Rusia, seperti Tiongkok dan India.
Langkah ini diambil setelah beberapa upaya diplomatik AS gagal membujuk Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan serangan ke Ukraina. Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia bahkan meningkatkan intensitas serangan udara menggunakan drone dan misil ke wilayah Ukraina. Trump mengaku "kecewa" dengan Putin, namun belum "menyerah" dan mengatakan masih ada peluang untuk tekanan diplomatik dan ekonomi yang lebih keras.
Sebagai bagian dari upaya mendorong Rusia kembali ke meja perundingan, Trump juga menjanjikan bantuan militer baru untuk Ukraina. Ia mengatakan AS akan mengirim senjata canggih seperti sistem rudal pertahanan udara Patriot dalam waktu dekat. Namun, ia menegaskan bahwa negara-negara NATO akan menanggung biaya pengiriman senjata tersebut, sementara AS hanya akan memproduksinya. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyambut baik langkah ini dan memastikan negaranya akan berkontribusi secara signifikan.
Meskipun begitu, beberapa pihak meragukan apakah ancaman tarif Trump benar-benar akan berdampak besar terhadap ekonomi Rusia. Harga minyak dunia justru turun selama dua hari terakhir karena pedagang global melihat potensi hambatan ekspor Rusia masih terbatas. Di sisi lain, Tiongkok mengecam rencana sanksi AS, menyebutnya sebagai bentuk “yurisdiksi lengan panjang” dan menegaskan akan memperkuat hubungan dengan Moskow.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyambut dukungan dari Trump dan mengatakan telah berbicara langsung untuk membahas langkah-langkah selanjutnya. Mereka sepakat untuk lebih sering berkomunikasi dan bekerja sama memperkuat posisi Ukraina di medan perang dan diplomasi. Meski prospek damai masih belum jelas, tekanan ekonomi dan bantuan militer dianggap penting untuk menahan laju agresi Rusia di jangka pendek.
Sumber: (ayu-newsmaker)