Trump: Iran Ingin Kesepakatan, Pasar Cerna Risiko Konflik dan Arah Negosiasi
Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran “sangat ingin membuat kesepakatan” dan menyebut hasilnya akan menguntungkan Amerika Serikat serta sekutu-sekutunya. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di Truth Social, di tengah pasar yang masih sensitif terhadap arah negosiasi dan perkembangan terbaru konflik.
Komentar Trump muncul setelah US Central Command (Centcom) menyatakan telah melakukan serangan terhadap target di Iran selama akhir pekan. Kombinasi operasi militer dan pesan politik ini menempatkan fokus pasar pada dua hal sekaligus: apakah eskalasi akan berlanjut, atau justru mendorong percepatan jalur diplomasi.
Dalam unggahannya, Trump menilai tekanan politik domestik membuat proses negosiasi menjadi lebih sulit. Ia mengkritik pihak-pihak yang menurutnya terus “mengompori” narasi agar ia bergerak lebih cepat atau lebih lambat, hingga mendorong opsi perang atau sebaliknya, dan meminta publik “duduk tenang” karena semuanya akan berakhir baik.
Pasar keuangan menafsirkan pernyataan seperti ini sebagai sinyal bahwa pembicaraan masih berjalan, tetapi belum mencapai tahap final. Selama belum ada kepastian, volatilitas cenderung bertahan karena pelaku pasar harus menilai probabilitas skenario yang berbeda, mulai dari tercapainya kesepakatan, perpanjangan gencatan senjata, hingga risiko putaran eskalasi baru.
Di pasar minyak, harga West Texas Intermediate (WTI) pada saat laporan ini disusun tercatat naik 1,85% ke US$88,45. Kenaikan ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang kembali masuk, seiring kekhawatiran gangguan pasokan dan jalur distribusi energi masih menjadi variabel utama yang langsung memengaruhi harga.
Dampak ke emas, dolar, dan minyak: minyak cenderung mendapat dukungan selama ketidakpastian konflik dan risiko gangguan pasokan tetap tinggi, sementara setiap sinyal kesepakatan yang kredibel biasanya menekan premi risiko minyak. Untuk dolar AS, meningkatnya ketidakpastian geopolitik kerap mendorong permintaan aset defensif, sehingga dolar bisa tetap firm. Emas berada di jalur “tarik-menarik”: risiko perang menjaga permintaan lindung nilai, tetapi jika kenaikan minyak memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi (yang memperkuat dolar dan yield), ruang kenaikan emas bisa tertahan meski sentimen safe haven masih ada.(asd)
Sumber: Newsmaker.id