Minyak Turun Tapi Masih Mendekati Tertinggi Sebulan
Harga minyak turun pada perdagangan Kamis (16/7), tetapi masih bertahan dekat level tertinggi sejak pertengahan Juni. Tekanan harga tertahan karena perang Iran kembali meningkat dan Teheran disebut meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur ekspor minyak Laut Merah.
Minyak Brent melemah 0,85% dan ditutup di level US$84,23 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI turun 0,82% ke level US$78,95 per barel. Meski ditutup melemah, kedua harga acuan sempat naik lebih dari 1% pada level tertinggi sesi.
Risiko utama datang dari ancaman gangguan dua jalur energi penting sekaligus. Selat Hormuz sudah terganggu akibat konflik AS-Iran, sementara Bab el-Mandeb di Laut Merah berpotensi ikut terancam jika Houthi benar-benar menutup jalur tersebut. Jalur Bab el-Mandeb menjadi penting karena volume minyak yang melewatinya mencapai sekitar 7,4 juta barel per hari pada Juni, atau sekitar 7% dari produksi minyak global.
Ketegangan meningkat setelah AS menyerang pertahanan pesisir dan lokasi rudal Iran, serta kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Teheran merespons dengan ancaman akan mengganggu lebih banyak ekspor energi kawasan dan menyebut konflik dengan Amerika sebagai “perang eksistensial”.
Arus kapal di Selat Hormuz juga menurun. Hanya tujuh kapal yang melintas pada Rabu, turun dari 13 kapal pada hari sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pelayaran masih berhati-hati karena risiko serangan, blokade, biaya asuransi, dan gangguan rantai pasok masih tinggi.
Dampaknya ke market, minyak memang melemah harian, tetapi risiko kenaikan tetap besar selama Hormuz dan Laut Merah sama-sama terancam. Jika dua jalur ekspor utama Timur Tengah terganggu bersamaan, harga minyak bisa kembali melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi global. Namun, pembebasan seorang warga AS oleh Iran memberi sedikit harapan bahwa ruang diplomasi masih belum sepenuhnya tertutup.(yds)
Sumber: Newsmaker.id