Emas Turun di Bawah $4000 Saat Kembalinya Spekulasi Hike Rate
Harga emas turun tajam lebih dari 2% pada perdagangan Kamis (16/7), tertekan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan yield Treasury. Pasangan XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$3.974 per troy ounce, kembali turun di bawah level psikologis US$4.000.
Tekanan terhadap emas muncul karena ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak. Meski harga minyak bergerak sedikit melemah harian, WTI masih mencatat kenaikan lebih dari 13% sepanjang Juli, sehingga pasar khawatir risiko inflasi energi bisa kembali meningkat.
Dolar AS ikut menguat karena investor menilai kenaikan harga energi dapat membuat The Fed tetap berhati-hati terhadap inflasi. Indeks Dolar AS naik sekitar 0,24% ke level 100,74, mendekati area 101,00. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Data ekonomi AS juga memberi tekanan tambahan bagi emas. Retail Sales naik 0,2% secara bulanan pada Juni, sesuai ekspektasi, meski lebih rendah dari kenaikan 1% pada Mei. Sementara itu, Initial Jobless Claims turun ke 208 ribu, lebih rendah dari perkiraan 217 ribu, menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup solid.
Yield Treasury AS ikut bergerak naik, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun bertambah hampir 3 basis poin ke 4,577%. Komentar pejabat The Fed juga cenderung hawkish, terutama setelah Lorie Logan dan Jeffrey Schmid menyoroti risiko inflasi yang masih persisten di berbagai sektor barang dan jasa.
Dampaknya ke market, emas masih rawan tertekan selama dolar dan yield terus menguat. Pasar memang memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Juli, tetapi peluang kenaikan suku bunga pada Oktober masih cukup besar. Jika XAU/USD gagal kembali ke atas US$4.000, tekanan jual berpotensi berlanjut, sementara rebound baru lebih kuat jika dolar mulai melemah dan risiko inflasi energi mereda.(yds)
Sumber: Newsmaker.id