Dolar Stabil, Sentimen The Fed Membebani
Dolar AS stabil pada perdagangan Jumat (17/7), tetapi masih berada di jalur pelemahan mingguan. Tekanan terhadap greenback muncul setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan membuat pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Indeks dolar bergerak mendatar, sementara euro sedikit melemah terhadap dolar AS. Sepanjang pekan ini, pasar mata uang dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi kebijakan moneter global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Awalnya, eskalasi antara Washington dan Iran sempat mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Namun, sentimen tersebut tertahan setelah data inflasi AS menunjukkan perlambatan yang mengejutkan. Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai melepas posisi beli dolar.
Di Inggris, poundsterling mencatat penguatan mingguan meski melemah tipis pada perdagangan harian. Sentimen terhadap pound didukung meredanya kekhawatiran fiskal setelah calon Perdana Menteri Andy Burnham dikabarkan memilih sosok yang lebih moderat untuk posisi menteri keuangan.
Sementara itu, euro tetap relatif bertahan meski data inflasi zona euro melambat menjadi 2,8% pada Juni dari 3,2% bulan sebelumnya. Perlambatan inflasi memberi ruang bagi Bank Sentral Eropa, tetapi pasar masih menunggu arah kebijakan ECB pada pertemuan pekan depan.
Dampaknya ke market, dolar masih berada dalam tekanan karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai mereda. Namun, konflik Timur Tengah dan risiko intervensi yen Jepang tetap membuat pasar berhati-hati. Jika ketegangan geopolitik meningkat, permintaan safe haven berpotensi kembali menahan pelemahan dolar lebih dalam.(arl)
Sumber: Newsmaker.id