AS-Iran Tukar Draf, Israel Perluas Operasi Darat di Lebanon
Amerika Serikat dan Iran bertukar pesan selama akhir pekan untuk mengusulkan perubahan pada draf kesepakatan yang bertujuan memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, arah pembicaraan masih belum jelas, dengan belum ada sinyal kuat bahwa kedua pihak mendekati terobosan.
Presiden Donald Trump mengatakan rancangan kesepakatan yang ia dorong menegaskan “Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.” Ia kembali menuntut Iran menghentikan program nuklirnya serta memulihkan Selat Hormuz ke status sebelumnya sebagai jalur pelayaran internasional yang terbuka. Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menilai pembicaraan masih berlangsung dan menekankan bahwa sebelum ada hasil definitif, penilaian apa pun masih bersifat spekulatif.
Sementara diplomasi berjalan, eskalasi militer di kawasan terus meningkat. Israel memperluas serangan darat di Lebanon, mematahkan gencatan senjata yang rapuh di perbatasan utara, ketika Hezbollah meningkatkan serangan ke wilayah Israel utara. Militer Israel menyebut lebih dari 300 “proyektil” ditembakkan Hezbollah selama akhir pekan ke pasukannya di Lebanon dan ke wilayah Israel utara, menambah ketidakpastian apakah ketegangan akan mereda meski perang dengan Iran berakhir.
Di sisi negosiasi, media pemerintah Iran melaporkan adanya draf baru yang disebut memberi Iran “otoritas eksklusif” untuk menentukan karakter kapal yang melintas di Selat Hormuz, poin yang diperkirakan sulit diterima AS. Laporan itu juga menyebut draf memuat komitmen akses Iran ke US$12 miliar dana beku dalam 60 hari, dikirim ke bank-bank Iran tanpa pembatasan, meski dokumen tersebut digambarkan “tidak resmi” dan belum final. Tasnim melaporkan kedua pihak masih mengusulkan amandemen, namun tidak menutup kemungkinan perubahan ditolak dan kesepakatan kolaps.
Dampak pasar: minyak, dolar, dan emas
Ketidakpastian Hormuz dan eskalasi Lebanon cenderung menjaga risk premium energi tetap tinggi, sehingga minyak berpotensi bertahan sensitif terhadap setiap perkembangan negosiasi maupun berita keamanan. Kenaikan minyak biasanya memperkuat kekhawatiran inflasi berbasis energi, yang dapat mengangkat yield dan mendukung dolar sebagai aset defensif. Untuk emas, efeknya berlapis: risiko geopolitik biasanya menopang permintaan lindung nilai, tetapi bila pasar menilai lonjakan minyak mendorong inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga lebih tinggi, itu bisa menahan kenaikan emas karena kondisi finansial menjadi lebih ketat. Variabel kunci yang dipantau adalah status pembukaan Selat Hormuz, arah amandemen kesepakatan AS-Iran, dan skala eskalasi Israel–Hezbollah.(asd)
Sumber: Newsmaker.id